Seorang ibu tua rabun yang mencari kebahagiaannya dengan menyulam tiap pagi di teras rumahnya. Banyak sekali orang yang lalu lalang melewati rumah ibu itu. Ada bebarapa orang yang ingin melihat hasil sulamannya, setelah melihatnya dia pergi tanpa ada kata apapun.
Dari sekian banyak orang yang lalu lalang, ada empat pemuda yang memperhatikan sulaman si ibu. pemuda pertama saat melihat hasil sulaman si ibu tua yang rabun, dia berkata "sulaman ibu tidak terlalu bagus, coba ibu perbaiki yang ini dan itu", pemuda pertama ini sering menghampiri si ibu untuk terus memberikan masukannya.
Pemuda kedua saat melihat sulaman si ibu, dia berkata "sulaman ibu bagus, coba teruskan dengan semangat ibu yang ada", pemuda kedua inipun sering menghampiri si ibu untuk terus memberikan semangatnya.
Pemuda ketiga saat melihat hasil sulaman si ibu tua, dia hanya berguman, namun si ibu tahu pemuda yang ketiga ini ahli dalam menyulam, karenanya si ibu mengharapkan kesediaannya jika si ibu berbuat keliru dalam menyulam agar cepat diingatkan, pemuda ini mulai memperhatikan si ibu dari jarak jauh.
Pemuda keempat saat melihat hasil sulaman si ibu tua, dia berkata " sulaman ibu jelek sekali, sebaiknya ibu hentikan kebiasaan ibu yang buruk itu", si ibu tua sangat kecewa, namun ketiga pemuda lainnya memberikan motivasi bahwa sulaman ibu untuk setingkat ibu yang sudah tua dan rabun cukup bagus.
Karena mendapatkan dorongan yang kuat dari 3 pemuda itu. Si ibu terus berusaha memperbaiki sulamannya, dan dia mulai merasakan kenikmatan dari tiap jahitan jarum yang ada pada sulamannya. Lama kelamaan hasil sulamannya cukup bagus, dan orang-orang yang dulu lalu lalang mulai memperhatikannya. Si ibu tua bangga dan dia mulai menunjukkan kesetiap orang yang baru dikenalnya agar mampir dan melihat sulamannya yang sangat bagus menurut si ibu.
Karena tahu sulaman si ibu mulai membaik dan didukung oleh pendapat para pengunjungnya, maka pemuda ke empat mengundang seorang kaisar yang cerdas dan kaya agar menghancurkan si ibu tua rabun itu. Lalu dengan akal liciknya si kaisar yang cerdas dan kaya itu mampir di malam hari ke rumah gubuk reyot si ibu tua, lalu dia menanyakan hasil sulamannya. Si ibu dengan bangga memperlihatkan padanya. Dengan otaknya yang cerdas dari si kaisar dia ingin melihat lebih jelas permukaan sulaman ibu itu, dengan bangganya lalu si ibu tua menyalakan korek api dan didekatkan lebih menempel ke hasil sulamannya agar si kaisar bisa melihat lebih jelas. Tapi seperti yang kita perkirakan sulaman itu langsung terbakar hangus. Dan kaisarpun pergi secara berlahan tanpa banyak kata.
Si ibu menangis dengan kehancuran sulaman yang dibanggakannya, dia menyesal mengapa menunjukkan sulamannya itu ke seorang kaisar yang tidak benar-benar berniat melihat kebagusannya. Si ibu sedih, dia harus memulai sulamannya dari awal kembali, namun kenikmatan yang dirasakan saat menyulam sudah hilang dari hatinya. Dia menangis bukan karena nikmatnya menyulam namun dia menangis karena kenikmatan menyulamnya telah hilang di hatinya. Si ibu berencana untuk menghentikan sulamannya, kemudian si ibu membaca QS. Adz Dzaariyaat (51) ayat 51-60:
'Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Ia itu adalah seorang tukang sihir atau orang gila"
Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan sekali-kali tidak tercela.
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat KokohMaka sesungguhnya untuk orang-orang zalim ada bahagian (siksa) seperti bahagian teman-teman mereka (dahulu); maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakannya.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka'-------
Si ibu tua yang rabun hanya bisa sedih membaca kitab suci ini karena si ibu tidak lagi merasakan kenikmatan di hatinya saat dia menyulam, dia menangis karena hilangnya kenikmatan itu. Dan dia mulai menyulam lagi dengan penuh keterpaksaan agar suatu saat bisa kembali menikmati kenikmatan di hatinya, tapi sayang seribu sayang si ibu tidak tahu kapan kenikmatan di hatinya bisa datang kembali pada dirinya....
-Gantira- Wollongong Australia
Minggu, 05 Februari 2006
Minggu, 06 Februari 2005
Malam Yang Mengenaskan
Mam,,,mam,.. tolong…tolong..tolong…dady.dady,,dady….tolong…tolong..” suatu jeritan dari sebuah kamar seorang gadis yang sangat cantik. Semua orang yang ada dirumah itu langsung terbangun dan mereka mulai menggedor-gedor kamar gadis itu. “Ada apa wulan, ada apa anakku, ayo cepat buka pintunya..” teriak ibu dan bapaknya. Adiknya yang masih kecil hanya terpana dan tak bisa mengeluarkan sedikit katapun yang ingin keluar dari hatinya.
Suara jeritan itu terus menerus memekakkan telinga seisi rumah itu sampai terdengar ke tetangga sekitarnya. Para tetangga mulai berdatangan dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
Lalu semua sepakat untuk mendobrak kamar gadis itu. Dengan bantuan para tetangga mereka mulai mendobrak pintu yang terkunci rapat. Dengan bahunya mereka bergantian. Mengambil jarak sekitar dua meter dari pintu itu, lalu satu persatu mulai sekuat tenaga menuju ke arah pintu itu dan terdengan “ Brak ..” kemudian mundur lagi dan diulangi lagi tindakan itu terdengar lagi "brak” sampai akhirnya sedikit demi sedikit pintu terbuka”. Lalu tetangga lainnya langsung menendang pintu tersebut dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya pintu itu mulai tebuka dengan lebar.
Saat pintu terbuka, gadis itu terus menerus gelisah dalam tidurnya dan terus berteriak dengan teriakan yang menakutkan dan mengkhawatirkan seisi rumah. Lalu ibunya cepat mendekap anaknya dan cepat membangunkannya. “ Wulan..wulan.. bangun, ada apa nak” ibunya terus mendorong anak gadisnya itu dengan goyangan yang semakin keras.Lama kelamaan anak itu mulai terbangun dan dia cepat memeluk ibunya dengan ketakutan yang masih tampak di wajahnya. Dan keringat dingin membasahi seluruh tubuh gadis itu. Dia menangis dan menangis terus menerus dipelukan ibunya.
Dia mengatakan bahwa dia melihat ular yang sangat besar yang melilit mama dan dadynya serta terlihat seorang yang sangat menyeramkan dengan tubuh yang sangat besar dan memegang sebuah pecutan yang terbuat dari tembaga, ujung tembaga itu menyala-nyala bagaikan tembaga yang baru keluar dari sebuah coran yang sangat panas.
Dalam mimpinya, Gadis itu melihat orang yang sangat menyeramkan tersebut memecut dady dan mamanya sehingga tubuh orang tuanya hancur kemudian sembuh lalu dipecut lagi dan kejadian itu terus berulang tanpa henti. Suatu pemandangan yang sangat mengerikan serta nampak dari wajah mama dan didaynya menahan rasa sakit yang luar biasa dan terdengar teriakan yang membuat wulan menjerit melihat kedua orang tuanya mengalami penderitaan yang sangat hebat yang belum pernah dilihatnya dari film manapun juga.
Mendengarkan mimpi yang menyeramkan itu, ibunya hanya memandang anaknya serta pelukan yang semakin erat. Setelah lama berada dalam pelukan ibunya akhirnya tangisan gadis itu mereda dan wulan mulai menyadari bahwa dia hanya mimpi. Akhirnya satu persatu para tetangga mulai pamit kepada keluarga itu sehingga yang tertinggal hanya mereka berempat.
Mereka adalah sebuah keluarga dengan dua orang anak. Anak pertama bernama wulan yang sudah menginjak kelas 1 SMA, anak yang kedua bernama Toni dia baru menginjak 1 SMP. Ibu kedua anak itu bekerja sebagai seorang bendaharawan di sebuah perusahaan yang cukup besar dalam bidang property sedang suaminya sebagai seorang pejabat di sebuah Instansi. Mereka menempati rumah yang sangat besar, dengan tiga kendaraan roda empat yang sangat mahal dan satu sepeda motor dengan CC tinggi dirumahnya.
Ayahnya sering melakukan perjalanan dinas keluar kota serta diapun banyak mendapatkan uang yang melimpah ruah karena jabatan yang diembannya sangat memungkinkan untuk itu. Amplop dari berbagai perusahaan yang dimenangkan atas rekomendasinya mulai mentransper beberapa puluh juta ke rekeningnya. Disamping itu, bila dia melakukan perjalanan kedaerah-daerah yang ditujunya dia selalu mendapatkan servis yang luar biasa. 'Dunia gemerlap' adalah makanannya setiap malam.
Dengan alasan refresing dari tugasnya yang menumpuk, dia membenarkan semua kehidupan yang dijalaninya. Dan minuman keras menjadi minuman yang biasa menurutnya. Karena dia menganggap bahwa selama tidak memabukkan maka semua yang diminum adalah halal baginya.
Namun, pada saat acara resmi yang dibuka olehnya. Keluar kalimat-kalimat agama dan nasihat yang nampak dia sebagai seorang yang agung dengan kedalaman ilmunya yang nampak tinggi dan kesyahduannya yang nampak penghayatan dari setiap ucapannya. Dia selalu mengingatkan akan pentingnya bersedekah, berbakti bagi nusa dan bangsa serta berbagai ucapan dewa lainnya yang membuat terbuainya orang-orang yang mendengarkannya.
Sedang ibunya adalah seorang bendahara disebuah perusahaan kontraktor yang sangat besar. Setiap memenangkan proyek, ibu itu selalu mengeluarkan sejumlah uang untuk menservis para pejabat yang telah memenangkan proyek besar itu. Setiap arus kas yang keluar dari perusahaan kontraktor itu selalu ada tanda tangan dari dirinya. Dan dia mengetahui kemana saja uang yang keluar digunakan. Namun, diamping dia mengeluarkan uang untuk orang lain diapun mengeluarkan uang untuk dirinya juga dengan jumlah yang cukup besar.
Dia menservis dan mengeluarkan uang yang sangat besar itu untuk membuat para pejabat menjadi senang dan merasa kerasan dengan kerjasama yang baik yang telah mereka lakukan.Keluarga itu berlimpahkan harta yang sangat banyak dan membuat semua teman-teman sekantor serta para tetangga menghormati dirinya. Mereka terkenal sebagai orang yang sangat mudah menyumbang untuk para tetangganya, untuk teman-teman kantornya serta semua yang mereka temui. Setiap ada fakir miskin mereka selalu menyumbangkan hartanya. Begitu pula pada saat ada acara-acara keagamaan ataupun pembangunan tempat ibadah yang membutuhkan dana yang besar. Keluarga itu selalu menjadi penyumbang terbesar di tempat itu.
Sehingga para tetangga dan semua teman-temannya menganggap keluarga itu sebagai keluarga yang dermawan serta mengagungkannya bagaikan ratu adil yang selalu siap membantu mereka. Keluarga itu kalau berlibur tidak hanya ke negara-negara eropa tapi juga melakukan umroh untuk menanamkan agama pada kedua anak mereka. Mereka dipandang sebagai orang yang bahagia didunia dan diperkirakan akan bahagia juga diakhirat.
Para tetangga dan teman-teman sejawatnya sangat merindukan suatu keluarga dan kehidupan seperti yang keluarga itu alami karena mereka melihat suatu kesempurnaan keluarga yang sangat cocok dan ideal menurut pandangan mereka.
Ketika mimpi menyeramkan yang dialami wulan terjadi membuat kedua orang tua wulan termenung. Mereka mulai mencoba memahami keadaan dan kehidupan yang mereka alami. Mereka mencoba merenungi mimpi anak gadisnya itu, bagaikan suatu keadaan dan situasi yang sangat bertentangan dengan yang mereka bayangkan. Mereka merasa telah banyak beramal dengan sumbangan-sumbangan untuk para tetangganya, tempat ibadah serta ibadah dan umroh yang sering mereka ulangi setiap tahun.
Mereka tetap merasa heran apakah amal yang mereka lakukan itu seimbang dengan mimpi anaknya atau apa yang sebenarnya terjadi. Atau apakah mereka hanya akan menganggapnya sebagai mimpi anak kecil yang akan berlalu begitiu saja. Nampak diwajah mereka terus termenung tentang mimpi yang dialami oleh anak gadisnya. Dan pertanyaan itu terus meliputi batin mereka.
-Gantira- Jakarta
Suara jeritan itu terus menerus memekakkan telinga seisi rumah itu sampai terdengar ke tetangga sekitarnya. Para tetangga mulai berdatangan dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
Lalu semua sepakat untuk mendobrak kamar gadis itu. Dengan bantuan para tetangga mereka mulai mendobrak pintu yang terkunci rapat. Dengan bahunya mereka bergantian. Mengambil jarak sekitar dua meter dari pintu itu, lalu satu persatu mulai sekuat tenaga menuju ke arah pintu itu dan terdengan “ Brak ..” kemudian mundur lagi dan diulangi lagi tindakan itu terdengar lagi "brak” sampai akhirnya sedikit demi sedikit pintu terbuka”. Lalu tetangga lainnya langsung menendang pintu tersebut dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya pintu itu mulai tebuka dengan lebar.
Saat pintu terbuka, gadis itu terus menerus gelisah dalam tidurnya dan terus berteriak dengan teriakan yang menakutkan dan mengkhawatirkan seisi rumah. Lalu ibunya cepat mendekap anaknya dan cepat membangunkannya. “ Wulan..wulan.. bangun, ada apa nak” ibunya terus mendorong anak gadisnya itu dengan goyangan yang semakin keras.Lama kelamaan anak itu mulai terbangun dan dia cepat memeluk ibunya dengan ketakutan yang masih tampak di wajahnya. Dan keringat dingin membasahi seluruh tubuh gadis itu. Dia menangis dan menangis terus menerus dipelukan ibunya.
Dia mengatakan bahwa dia melihat ular yang sangat besar yang melilit mama dan dadynya serta terlihat seorang yang sangat menyeramkan dengan tubuh yang sangat besar dan memegang sebuah pecutan yang terbuat dari tembaga, ujung tembaga itu menyala-nyala bagaikan tembaga yang baru keluar dari sebuah coran yang sangat panas.
Dalam mimpinya, Gadis itu melihat orang yang sangat menyeramkan tersebut memecut dady dan mamanya sehingga tubuh orang tuanya hancur kemudian sembuh lalu dipecut lagi dan kejadian itu terus berulang tanpa henti. Suatu pemandangan yang sangat mengerikan serta nampak dari wajah mama dan didaynya menahan rasa sakit yang luar biasa dan terdengar teriakan yang membuat wulan menjerit melihat kedua orang tuanya mengalami penderitaan yang sangat hebat yang belum pernah dilihatnya dari film manapun juga.
Mendengarkan mimpi yang menyeramkan itu, ibunya hanya memandang anaknya serta pelukan yang semakin erat. Setelah lama berada dalam pelukan ibunya akhirnya tangisan gadis itu mereda dan wulan mulai menyadari bahwa dia hanya mimpi. Akhirnya satu persatu para tetangga mulai pamit kepada keluarga itu sehingga yang tertinggal hanya mereka berempat.
Mereka adalah sebuah keluarga dengan dua orang anak. Anak pertama bernama wulan yang sudah menginjak kelas 1 SMA, anak yang kedua bernama Toni dia baru menginjak 1 SMP. Ibu kedua anak itu bekerja sebagai seorang bendaharawan di sebuah perusahaan yang cukup besar dalam bidang property sedang suaminya sebagai seorang pejabat di sebuah Instansi. Mereka menempati rumah yang sangat besar, dengan tiga kendaraan roda empat yang sangat mahal dan satu sepeda motor dengan CC tinggi dirumahnya.
Ayahnya sering melakukan perjalanan dinas keluar kota serta diapun banyak mendapatkan uang yang melimpah ruah karena jabatan yang diembannya sangat memungkinkan untuk itu. Amplop dari berbagai perusahaan yang dimenangkan atas rekomendasinya mulai mentransper beberapa puluh juta ke rekeningnya. Disamping itu, bila dia melakukan perjalanan kedaerah-daerah yang ditujunya dia selalu mendapatkan servis yang luar biasa. 'Dunia gemerlap' adalah makanannya setiap malam.
Dengan alasan refresing dari tugasnya yang menumpuk, dia membenarkan semua kehidupan yang dijalaninya. Dan minuman keras menjadi minuman yang biasa menurutnya. Karena dia menganggap bahwa selama tidak memabukkan maka semua yang diminum adalah halal baginya.
Namun, pada saat acara resmi yang dibuka olehnya. Keluar kalimat-kalimat agama dan nasihat yang nampak dia sebagai seorang yang agung dengan kedalaman ilmunya yang nampak tinggi dan kesyahduannya yang nampak penghayatan dari setiap ucapannya. Dia selalu mengingatkan akan pentingnya bersedekah, berbakti bagi nusa dan bangsa serta berbagai ucapan dewa lainnya yang membuat terbuainya orang-orang yang mendengarkannya.
Sedang ibunya adalah seorang bendahara disebuah perusahaan kontraktor yang sangat besar. Setiap memenangkan proyek, ibu itu selalu mengeluarkan sejumlah uang untuk menservis para pejabat yang telah memenangkan proyek besar itu. Setiap arus kas yang keluar dari perusahaan kontraktor itu selalu ada tanda tangan dari dirinya. Dan dia mengetahui kemana saja uang yang keluar digunakan. Namun, diamping dia mengeluarkan uang untuk orang lain diapun mengeluarkan uang untuk dirinya juga dengan jumlah yang cukup besar.
Dia menservis dan mengeluarkan uang yang sangat besar itu untuk membuat para pejabat menjadi senang dan merasa kerasan dengan kerjasama yang baik yang telah mereka lakukan.Keluarga itu berlimpahkan harta yang sangat banyak dan membuat semua teman-teman sekantor serta para tetangga menghormati dirinya. Mereka terkenal sebagai orang yang sangat mudah menyumbang untuk para tetangganya, untuk teman-teman kantornya serta semua yang mereka temui. Setiap ada fakir miskin mereka selalu menyumbangkan hartanya. Begitu pula pada saat ada acara-acara keagamaan ataupun pembangunan tempat ibadah yang membutuhkan dana yang besar. Keluarga itu selalu menjadi penyumbang terbesar di tempat itu.
Sehingga para tetangga dan semua teman-temannya menganggap keluarga itu sebagai keluarga yang dermawan serta mengagungkannya bagaikan ratu adil yang selalu siap membantu mereka. Keluarga itu kalau berlibur tidak hanya ke negara-negara eropa tapi juga melakukan umroh untuk menanamkan agama pada kedua anak mereka. Mereka dipandang sebagai orang yang bahagia didunia dan diperkirakan akan bahagia juga diakhirat.
Para tetangga dan teman-teman sejawatnya sangat merindukan suatu keluarga dan kehidupan seperti yang keluarga itu alami karena mereka melihat suatu kesempurnaan keluarga yang sangat cocok dan ideal menurut pandangan mereka.
Ketika mimpi menyeramkan yang dialami wulan terjadi membuat kedua orang tua wulan termenung. Mereka mulai mencoba memahami keadaan dan kehidupan yang mereka alami. Mereka mencoba merenungi mimpi anak gadisnya itu, bagaikan suatu keadaan dan situasi yang sangat bertentangan dengan yang mereka bayangkan. Mereka merasa telah banyak beramal dengan sumbangan-sumbangan untuk para tetangganya, tempat ibadah serta ibadah dan umroh yang sering mereka ulangi setiap tahun.
Mereka tetap merasa heran apakah amal yang mereka lakukan itu seimbang dengan mimpi anaknya atau apa yang sebenarnya terjadi. Atau apakah mereka hanya akan menganggapnya sebagai mimpi anak kecil yang akan berlalu begitiu saja. Nampak diwajah mereka terus termenung tentang mimpi yang dialami oleh anak gadisnya. Dan pertanyaan itu terus meliputi batin mereka.
-Gantira- Jakarta
Rabu, 06 Oktober 2004
Buah Kesabaran
Keringatnya bercururan, nafasnya terengah-engah dan kakinya mulai pegal-pegal, namun akhirnya sampai juga pada tempat yang dia tuju.
Kemudian dia berucap “ Pak beli kelapa 2 buah sekalian di parud !, juga beli cabe, bawang dan garam”…
Dia terdiam sambil menunggu yang dia pesan selesai, setelah lama menunggu lalu ia teringat akan pesan istrinya, lalu diapun berucap “Pak tolong santan yang kental dan cair dipisah!”
“Kenapa gak ngomong dari tadi!!” suara balasan dengan nada membentak, “Ini udah terlanjur, tau!!” disusul dengan ucapan yang memanaskan hati yang memang sudah panas..
Si pemuda itu lalu melihat sebuah golok yang membentang didepannya, dia terdiam lama sambil melihat tukang kelapa mengerjakan tugasnya. Dadanya terus memanas, hatinya berucap “apa hak si penjual memarahi pembeli, apa dia tidak tahu bahwa si pembeli adalah raja??” kalimat itu terus bergaung-gaung dalam hatinya yang mulai membakar seluruh tubuhnya.
Lalu dia menyambar sebuah golok didepannya dan dibacokkan berkali-kali pada si penjual kelapa, setelah darah bercucuran disekujur tubuhnya. Dia melihat sekelilingnya menjerit-jerit. Anak-anak menangis, ibu-ibu berteriak, dan banyak lelaki yang tertegun tak bisa berbuat apa-apa. Setelah itu terjadi, lalu datang sekumpulan polisi dengan senapan di tangannya. Dan berteriak “angkat tangan!!” diam ditempat!!”
Lalu pemuda itu dibawa dengan tangan diborgol dan orang-orang yang dilewatinya memaki-maki dan meludahi wajah pemuda itu. Akhirnya dia dihukum seumur hidup. Namanya hancur, keluarganya menahan rasa malu serta istri yang dicintainya menangis menahan rasa sakit bercampur cinta. Pemuda itu terdiam dalam kesedihan yang memilukan.
Setelah lama dia terdiam, terdengar suara “mas, saya kira kelapa pesanannya masih bisa dipisah, permintaan mas bisa saya penuhi” dia tersadar dari lamunannya. Dia bersyukur, untung bisa menahan rasa kemarahannya. Bila tidak maka akibat yang terjadi akan jauh lebih buruk. Sungguh menahan rasa marah dengan kesabaran mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dari yang dibayangkan.
-Gantira- Jakarta
-Gantira- Jakarta
Kemudian dia berucap “ Pak beli kelapa 2 buah sekalian di parud !, juga beli cabe, bawang dan garam”…
Dia terdiam sambil menunggu yang dia pesan selesai, setelah lama menunggu lalu ia teringat akan pesan istrinya, lalu diapun berucap “Pak tolong santan yang kental dan cair dipisah!”
“Kenapa gak ngomong dari tadi!!” suara balasan dengan nada membentak, “Ini udah terlanjur, tau!!” disusul dengan ucapan yang memanaskan hati yang memang sudah panas..
Si pemuda itu lalu melihat sebuah golok yang membentang didepannya, dia terdiam lama sambil melihat tukang kelapa mengerjakan tugasnya. Dadanya terus memanas, hatinya berucap “apa hak si penjual memarahi pembeli, apa dia tidak tahu bahwa si pembeli adalah raja??” kalimat itu terus bergaung-gaung dalam hatinya yang mulai membakar seluruh tubuhnya.
Lalu dia menyambar sebuah golok didepannya dan dibacokkan berkali-kali pada si penjual kelapa, setelah darah bercucuran disekujur tubuhnya. Dia melihat sekelilingnya menjerit-jerit. Anak-anak menangis, ibu-ibu berteriak, dan banyak lelaki yang tertegun tak bisa berbuat apa-apa. Setelah itu terjadi, lalu datang sekumpulan polisi dengan senapan di tangannya. Dan berteriak “angkat tangan!!” diam ditempat!!”
Lalu pemuda itu dibawa dengan tangan diborgol dan orang-orang yang dilewatinya memaki-maki dan meludahi wajah pemuda itu. Akhirnya dia dihukum seumur hidup. Namanya hancur, keluarganya menahan rasa malu serta istri yang dicintainya menangis menahan rasa sakit bercampur cinta. Pemuda itu terdiam dalam kesedihan yang memilukan.
Setelah lama dia terdiam, terdengar suara “mas, saya kira kelapa pesanannya masih bisa dipisah, permintaan mas bisa saya penuhi” dia tersadar dari lamunannya. Dia bersyukur, untung bisa menahan rasa kemarahannya. Bila tidak maka akibat yang terjadi akan jauh lebih buruk. Sungguh menahan rasa marah dengan kesabaran mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dari yang dibayangkan.
-Gantira- Jakarta
-Gantira- Jakarta
Sabtu, 05 Juni 2004
Kesempatan yang Terabaikan
Ada penguasa yang begitu kaya dan berkuasa dengan megahnya, dia memiliki tanah kekuasaan yang sangat luas. Laut dan tanahnya mengandung berbagai macam kekayaan yang berlimpah ruah bagai limpahan yang tak mungkin habis-habisnya.
Lautnya berlimpahkan berbagai macam jenis kekayaan yang sangat mengagumkan, ada berbagai macam jenis ikan yang berkembang dengan cepatnya, ada minyak dan gas yang takkan pernah habis sampai kapanpun, ada banyak terumbu karang yang sangat indah dan mengagumkan.
Daratannya memendam berbagai macam kemewahan yang tak pernah habis digunakan, tanahnya mengandung zat hara yang sangat tinggi, air didalamnya berlimpah ruah tanpa batas. Intan, emas, permata, berlian, minyak bumi, gas, dan berbagai jenis bahan tambang yang sangat berharga tertanam di dalam daratan tersebut.
Saat dia mengunjungi daerah A yang berada di bawah kekuasaannya. Terlihat disana mereka dalam kehidupan yang sangat menyenangkan bagaikan surga yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Mereka makan dengan makanan yang mereka inginkan dan sungguh melejatkan. Mereka minum dengan minuman yang mereka senangi yang sungguh menyegarkan. Karena mereka telah memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk mengeksploitasi kekayaan didalam tanah yang mereka tempati. Penguasa itu tersenyum melihat kecerdasan rakyatnya yang telah memanfaatkan otak mereka.
Saat dia mengunjungi daerah B yang juga berada di bawah kekuasaannya. Terlihat disana mereka dalam kehidupan yang sangat menyengsarakan. Pada saat mereka lapar maka untuk memenuhi kebutuhan perutnya mereka hanya mencari cacing dan belatung yang kebetulan ada di permukaan tanah sehingga membuat perut mereka semakin lapar dan mual. Pada saat haus mereka mendatangi air laut dan meminumnya sehingga membuat kerongkongan mereka semakin haus tak tertahankan. Penguasa itu sangat marah melihat kebodohan rakyatnya yang ada didaerah itu, karena mereka tidak menggunakan otaknya.
Saat dia mengunjungi daerah C yang juga berada di daerah kekuasaannya. Disana baru terlahir seorang anak muda yang tidak tahu apa-apa. Lalu penguasa itu mengajak anak muda tersebut melihat daerah A dan daerah B namun hanya melihat tidak diperkenankan untuk merasakan situasi keduanya. Dan dikatakan kepada anak muda di daerah C itu, bahwa dulu mereka diberi kesempatan dikirim ke daerah yang kaya akan berbagai macam ilmu pengetahuan.
Penduduk A, mereka memanfaatkan kesempatannya untuk belajar berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengan tehnik untuk mengolah segala macam jenis kekayaan yang terkandung di daerah tanah yang mereka tempati. Akhirnya seperti yang terlihat, mereka hidup dalam kemewahan yang luar biasa nikmatnya.
Penduduk B, merekapun diberi kesempatan untuk menimba berbagai jenis ilmu pengetahuan untuk mengolah tanah yang dimilikinya yang mengandung kekayaan seperti yang dimiliki oleh daerah A. Namun sayangnya penduduk A tidak memanfaatkan kesempatan menimba ilmu yang telah diberikan kepadanya, sehingga saat pulang dari negeri yang kaya ilmu mereka tetap bodoh seperti yang terlihat sekarang.
Pemuda yang dari daerah C mengerti dan paham saat itu. Kemudian dia dikirim ke daerah yang kaya akan ilmu yang dibutuhkan untuk mengolah tanahnya yang sangat kaya. Pada saat dia berangkat dia bertekad akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin, agar dia bisa hidup mewah seperti yang dia lihat di daerah A.
Setelah dia sampai ditempat tujuannya, awalnya dia tetap pada tujuan semula yaitu menuntut ilmu yang ada hubungannya dengan tanah yang dimilikinya. Namun lambat laun si pemuda itu mulai tergoda untuk mengikuti kesenangan lain yang ada di daerah yang kaya akan berbagai macam ilmu pengetahuan itu.
Pemuda itu mulai merasakan nikmatnya minum-minuman, nikmatnya bersex ria, nikmatnya melihat-lihat perempuan yang sangat cantik tanpa menggunakan sehelai bajupun, mulai mempelajari ilmu berjudi, ilmu menggosip dan berbagai ilmu yang tidak ada hubungannya dengan mengolah tanah yang dimilikinya.
Padahal ditempat dia menuntut ilmu, banyak sekali ilmu pengetahuan mengenai pertanian, pertambangan, perikanan, perhutanan, dan berbagai jenis ilmu lainnya yang sangat berlimpah tersedia disana. Tapi sayang si pemuda itu lupa akan tujuan awal dia di kirim ke tempat dunia ilmu itu.
Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahunpun berlalu. Pada saat diumumkan bahwa besok pemuda itu akan dilantik serta dia diwajibkan untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Baru dia tersadar akan kebodohannya, dia minta diperpanjang waktunya untuk menimba ilmu yang dibutuhkannya namun sayang semua sudah terlambat. Terbayang di matanya kehidupan yang akan dia alami seperti kehidupan yang dialami oleh penduduk B. Dia saat itu hanya bisa menangis dan meraung-raung akan penyesalan yang tak mungkin kembali.
Kemudian pemuda itu mengingat beberapa surat yang ada di kitab sucinya.
Q.S. Al Anbiya (21) ayat 35:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.'
Q.S. An Naml (37) Ayat 89-90:
'Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu'
'Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan'
Q.S. Thaaha (20) ayat 124:
''Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.''
Setelah mengingat kitab sucinya, pemuda itu menangis dengan tangisan yang menyayat hati, namun itu sudah terlambat. Dia merenungi berulang-ulang sebuah kalimat 'Kesempatan yang Terabaikan'.
-Gantira- Wollongong Australia
Lautnya berlimpahkan berbagai macam jenis kekayaan yang sangat mengagumkan, ada berbagai macam jenis ikan yang berkembang dengan cepatnya, ada minyak dan gas yang takkan pernah habis sampai kapanpun, ada banyak terumbu karang yang sangat indah dan mengagumkan.
Daratannya memendam berbagai macam kemewahan yang tak pernah habis digunakan, tanahnya mengandung zat hara yang sangat tinggi, air didalamnya berlimpah ruah tanpa batas. Intan, emas, permata, berlian, minyak bumi, gas, dan berbagai jenis bahan tambang yang sangat berharga tertanam di dalam daratan tersebut.
Saat dia mengunjungi daerah A yang berada di bawah kekuasaannya. Terlihat disana mereka dalam kehidupan yang sangat menyenangkan bagaikan surga yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Mereka makan dengan makanan yang mereka inginkan dan sungguh melejatkan. Mereka minum dengan minuman yang mereka senangi yang sungguh menyegarkan. Karena mereka telah memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk mengeksploitasi kekayaan didalam tanah yang mereka tempati. Penguasa itu tersenyum melihat kecerdasan rakyatnya yang telah memanfaatkan otak mereka.
Saat dia mengunjungi daerah B yang juga berada di bawah kekuasaannya. Terlihat disana mereka dalam kehidupan yang sangat menyengsarakan. Pada saat mereka lapar maka untuk memenuhi kebutuhan perutnya mereka hanya mencari cacing dan belatung yang kebetulan ada di permukaan tanah sehingga membuat perut mereka semakin lapar dan mual. Pada saat haus mereka mendatangi air laut dan meminumnya sehingga membuat kerongkongan mereka semakin haus tak tertahankan. Penguasa itu sangat marah melihat kebodohan rakyatnya yang ada didaerah itu, karena mereka tidak menggunakan otaknya.
Saat dia mengunjungi daerah C yang juga berada di daerah kekuasaannya. Disana baru terlahir seorang anak muda yang tidak tahu apa-apa. Lalu penguasa itu mengajak anak muda tersebut melihat daerah A dan daerah B namun hanya melihat tidak diperkenankan untuk merasakan situasi keduanya. Dan dikatakan kepada anak muda di daerah C itu, bahwa dulu mereka diberi kesempatan dikirim ke daerah yang kaya akan berbagai macam ilmu pengetahuan.
Penduduk A, mereka memanfaatkan kesempatannya untuk belajar berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengan tehnik untuk mengolah segala macam jenis kekayaan yang terkandung di daerah tanah yang mereka tempati. Akhirnya seperti yang terlihat, mereka hidup dalam kemewahan yang luar biasa nikmatnya.
Penduduk B, merekapun diberi kesempatan untuk menimba berbagai jenis ilmu pengetahuan untuk mengolah tanah yang dimilikinya yang mengandung kekayaan seperti yang dimiliki oleh daerah A. Namun sayangnya penduduk A tidak memanfaatkan kesempatan menimba ilmu yang telah diberikan kepadanya, sehingga saat pulang dari negeri yang kaya ilmu mereka tetap bodoh seperti yang terlihat sekarang.
Pemuda yang dari daerah C mengerti dan paham saat itu. Kemudian dia dikirim ke daerah yang kaya akan ilmu yang dibutuhkan untuk mengolah tanahnya yang sangat kaya. Pada saat dia berangkat dia bertekad akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin, agar dia bisa hidup mewah seperti yang dia lihat di daerah A.
Setelah dia sampai ditempat tujuannya, awalnya dia tetap pada tujuan semula yaitu menuntut ilmu yang ada hubungannya dengan tanah yang dimilikinya. Namun lambat laun si pemuda itu mulai tergoda untuk mengikuti kesenangan lain yang ada di daerah yang kaya akan berbagai macam ilmu pengetahuan itu.
Pemuda itu mulai merasakan nikmatnya minum-minuman, nikmatnya bersex ria, nikmatnya melihat-lihat perempuan yang sangat cantik tanpa menggunakan sehelai bajupun, mulai mempelajari ilmu berjudi, ilmu menggosip dan berbagai ilmu yang tidak ada hubungannya dengan mengolah tanah yang dimilikinya.
Padahal ditempat dia menuntut ilmu, banyak sekali ilmu pengetahuan mengenai pertanian, pertambangan, perikanan, perhutanan, dan berbagai jenis ilmu lainnya yang sangat berlimpah tersedia disana. Tapi sayang si pemuda itu lupa akan tujuan awal dia di kirim ke tempat dunia ilmu itu.
Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahunpun berlalu. Pada saat diumumkan bahwa besok pemuda itu akan dilantik serta dia diwajibkan untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Baru dia tersadar akan kebodohannya, dia minta diperpanjang waktunya untuk menimba ilmu yang dibutuhkannya namun sayang semua sudah terlambat. Terbayang di matanya kehidupan yang akan dia alami seperti kehidupan yang dialami oleh penduduk B. Dia saat itu hanya bisa menangis dan meraung-raung akan penyesalan yang tak mungkin kembali.
Kemudian pemuda itu mengingat beberapa surat yang ada di kitab sucinya.
Q.S. Al Anbiya (21) ayat 35:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.'
Q.S. An Naml (37) Ayat 89-90:
'Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu'
'Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan'
Q.S. Thaaha (20) ayat 124:
''Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.''
Setelah mengingat kitab sucinya, pemuda itu menangis dengan tangisan yang menyayat hati, namun itu sudah terlambat. Dia merenungi berulang-ulang sebuah kalimat 'Kesempatan yang Terabaikan'.
-Gantira- Wollongong Australia
Langganan:
Postingan (Atom)
