"Terserah, aku gak peduli apa yang akan bang lakukan, yang kuinginkan hanya uang untuk keselamatan anak kita, titik", teriak suminah terhadap Ading suaminya. Mendengar rasa kesal istrinya, dia semakin bingung dan bingung apa yang mesti dia lakukan. Sudah lama dia berusaha menghindar dari uang-uang yang datangnya gak jelas dari kantornya. Namun, semenjak cobaan anaknya sakit, dia semakin bingung apa yang mesti dia lakukan. Apakah dia akan ikut bersama teman sekantornya dalam memanipulasi uang atau dia tetap pada pendiriannya tuk menghindari semuanya.
Awalnya, dia masih bisa kuat dan dengan sabar menasihati suminah mengenai pentingnya menjaga diri dari harta yang gak jelas, namun semenjak 'usup' anaknya sakit dia mulai bimbang dengan pendiriannya. Dia mulai bingung dalam mengatasi keadaan yang menimpanya. Dia berusaha mencari tambahan lain dengan menjadi tukang ojek di malam hari untuk memenuhi biaya obat dan dokter untuk anaknya. Namun semua hasil yang didapatkannya masih jauh dari cukup.
Bila dilihat dari kedudukannya di instansi yang dia tempati, dia tidaklah terlalu rendah, masih banyak posisi teman-temannya yang berada di bawahnya. Namun semua teman sekantornya mempunyai kedudukan ekonomi yang jauh diatas dia. Banyak dari temannya yang memperolok semua yang dia lakukan, karena dengan kedudukan yang Ading capai saat ini bisa membuat dia jauh lebih kaya dari mereka. Namun, seperti biasa Ading merasa bahwa kedudukan itu bukanlah tujuannya. Dia berpendirian bahwa kebahagiaan adalah pada saat dia berusaha menghindari diri dari barang-barang dan uang yang tak jelas menurut keyakinannya.
Semenjak sakit anaknya mulai memuncak, sikap istrinya Suminah mulai berbeda. Dia mulai sering uring-uringan dan terus menyalahi dirinya yang bodoh dan lugu, sehingga keadaan ekonomi mereka tidaklah sebagus teman dan tetangga tetangganya. Istrinya sering mengomel dengan kata-kata yang tidak enak didengar, terbayang suara istrinya yang terus didengarnya "abang ini bodoh, masa dengan kedudukan abang, abang hanya punya motor butut, rumah RS yang gak layak huni, abang payah", suara dari istrinya terus bersemayam dalam dirinya. Dia bingung dan terus bingung dengan gempuran hinaan dari berbagai penjuru.
Teman-temannya siap membantu dirinya dengan menyiapkan kuitansi2 fiktif untuk memenuhi biaya pengobatan anaknya, istrinya terus ngomel dan minta uang walaupun dari mana asalnya. Mendapatkan gempuran yang begitu pesat membuat kepalanya hampir meledak terpencar ke berbagai arah. Dia terdiam dan termenung setiap hari menghadapi kebingunagnnya. Dia harus memilih antara kesehatan anaknya atau menerima uang dari sesuatu yang dipandangnya tak layak bagi keyakinannya.
"Ding, berbuat dosa sekali untuk menolong orang yang kita cintai masih bisa diampuni Tuhan. Tuhan kan maha Penyayang dan Maha Pengasih" nasihat atasannya terhadap dirinya. Dia terdiam dan mulutnya membisu mendengarkan nasihat yang tetap aneh menurut hatinya itu. Lalu atasannya meninggalkan dia dengan sejumlah uang dan beberapa kuitansi yang mesti ditandatanganinya. Ading dipersilahkan untuk berfikir berulang kali.
Setelah memikirkan semua nasihat-nasihat yang masuk ke kepalanya. Hatinya mulai bimbang dengan pendiriannya semula. Lalu dambil uang serta kuitansi yang siap di tanda tanaganinya. Dia lantas pulang kerumahnya yang masih reyot dan jelek dipandang mata. Dia langsung, masuk rumahnya dan tiduran di ruang tamu karena dia tahu istrinya sudah tertidur kecapaian menjaga 'usup' yang mengalami panas yang luar biasa.
Lalu, ia mulai menyimpan uang itu kedalam laci dan siap menandatangani semua yang mesti dia tanda tangani. Namun, matanya sungguh berat tuk mulai menggoreskan tanda tangannya pada beberapa kuitansi yang mesti diisi. Dia merasakan rasa kantuk yang luar biasa, karena kelelahan berfikir dan pekerjaan yang menumpuk dikantornya. Untuk menghindari kesalahan tanda tangan, maka dia memutuskan tuk tidur terlebih dahulu lalu terlelap dalam tidurnya yang tak dapat dia tahan-tahan lagi.
Tiba-tiba dia berada pada suatu jembatan yang sangat luas berjalan bersama-sama orang-orang yang berwajah bersih dan bercahaya menuju suatu tempat yang sangat indah dengan perkebunan dan bangunan bagaikan istana yang jauh lebih megah dari istanyanya kerajaan Inggris. Saat diperjalanan menuju tempat itu, tiba-tiba dihadapannya muncul suatu binatang yang sangat mengerikan yang siap menerkamnya. namun anehnya binantang itu hanya menatapnya dan mengabaikan orang-orang disekitar dirinya.
Binatang itu mengaum-ngaum dan nampak mulutnya yang besar dengan gigi yang siap menerkamnya mendekati dirinya. Dan dia berlari dan berlari sampai akhirnya dia terjatuh dalam jurang yang sangat dalam dan mulai terasa panas yang semakin menyengat selaras dengan jatuhnya dia ke jurang yang semakin dalam itu. Lalu dia terbangun dan terucap kalimat istigfar berulang-ulang dari mulutnya.
Dia, termenung dalam mimpi yang dialaminya. lalu dia mencoba menghubung-hubungkan dengan kehidupannya yang dialaminya sesuai dengan yang dia pahami. lalu dia melihat kuitansi yang ada di depan mejanya. Dia terdiam seribu bahasa serta berfikir apa yang mesti dilakukannya pada situasi saat itu.
Besok paginya dia membawa motor serta sertifikat rumahnya ke tempat penggadaian dan dia memperoleh sejumlah uang tuk kebutuhan pengobatan anaknya. Dia pulang dengan senyuman dan bersyukur bahwa semalam hanyalah sebuah mimpi yang sangat menakutkan untuk mengingatkan dirinya.
-Gantira- Jakarta
Selasa, 06 Februari 2007
Jumat, 05 Mei 2006
Ternyata Aku Telah Jatuh Cinta Lagi
Seorang kakek tua yang baru menikah, tanpa di temani oleh istri tercintanya berkelana ke sebuah pulau yang cukup besar. Di pulau itu dia hidup sendirian pada sebuah rumah yang cukup mewah menurut dirinya.
Di pulau yang baru itu, dia diwajibkan untuk selalu mengikuti rapat besar yang diadakan seminggu sekali. Dimana rapat tersebut dihadiri oleh para pemuda yang menggunakan bahasa dari generasi modern, dengan pemimpin rapatnya seorang pemuda asli dari pulau tersebut.
Setiap mengikuti rapat itu, si kakek agak kesulitan mengikuti bahasa yang digunakan oleh generasi modern tersebut. Dia berpikir kalau rapatnya seminggu skali maka akan lama untuk menyesuaikan telinganya dengan suara yang baru baginya. Awalnya dia mengharapkan kedatangan istri tercintanya supaya bisa berlatih tiap detik dengan bahasa generasi anak muda tersebut. Namun sayang istri tercintanya masih menunggu perahu yang akan membawanya ke pulau tersebut.
Setelah lama berpikir, akhirnya si kakek teringat akan suatu daerah tandus. Dimana disana terdapat sekelompok anak muda yang sering berkumpul lima kali dalam satu hari. mereka terus menerus mencangkul tanah yang tandus itu agar bisa menjadi lebih subur bagi hati mereka.
Setelah mengetahui bahwa di tanah tandus itu banyak pemuda yang menggunakan bahasa yang modern. Si kakek gembira skali karena dia telah menemukan solusi untuk meningkatkan pendengarannya terhadap bahasa yang aneh baginya. Dia mulai ikut menggali tanah yang tandus tersebut dengan tujuan utama berkomunikasi dengan sekelompok pemuda yang ada disana.
Hari demi hari berlalu, namun ada suatu keanehan yang terjadi pada diri si kakek. Dia merasakan suatu kenikmatan lain yang dirasakan hati si kakek pada saat dia mencangkul tanah yang tandus itu. Dia akhirnya lupa akan tujuan utamanya, dia mulai terbenam dalam kenikmatan yang luar biasa. Meskipun si kakek kadang-kadang bercakap dengan sekelompok pemuda itu. Tapi bagi si kakek percakapan itu bukan tujuan utama lagi. Tujuan utamanya beralih menjadi merasakan kenikmatan setiap cangkulan pada tanah tandus tersebut.
Meskipun di pagi hari yang sangat dingin dan menggetarkan badannya dimana hanya sedikit para pemuda yang datang pada saat itu. Si kakek tetap mendatanginya tanpa peduli ada tidaknya pemuda yang ingin diajaknya berbicara, sebab dia begitu merindukan dan menikmati setiap cangkulan pada tanah tandus tersebut. Karena begitu nikmatnya setiap cangkulan tersebut, si kakekpun mulai mencangkul di rumahnya pada tengah malam dan juga pada pagi hari. Si kakek baru sadar ternyata cangkulan di malam hari dan pagi hari sama nikmatnya dengan mencangkul lima kali dalam sehari di daerah tandus tersebut.
Di daerah tandus tersebut, ada seorang pemimpin yang selalu memberikan nasihat dalam satu minggu sekali dengan menggunakan bahasa modern. Ada salah satu nasehat yang begitu bermakna bagi si kakek tersebut yaitu "janganlah pernah merasa diri ahli surga dan jangan pernah pula mencap orang lain yang tidak melakukan cangkulan itu ahli neraka, sebab kita tidak tahu nasib kita pada saat meninggal nanti, semuanya bisa berbalik 180 derajat, namun yang perlu kita harapkan hanyalah berdoa dan berharap agar kita ditakdirkan menghembuskan napas terakhir dalam keadaan mencangkul tanah yang tandus".
Si kakek selalu merenungi nasihat pemimpin dari para pemuda yang sering mencangkul di tanah tandus tersebut, dan diapun membaca kitab sucinya:
Q.S. Al-Ankabuut(29)
Ayat 56:
"Hai hamba-hambaKu yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja."
Ayat 58-59
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya"
Ayat 60
"Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
Asy-Syams ayat 7-10,
''Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.''
Setelah membaca kitab sucinya, si kakek mengatakan dalam hati "Ternyata Aku Telah Jatuh Cinta Lagi"
-Gantira- Wollongong Australia
Di pulau yang baru itu, dia diwajibkan untuk selalu mengikuti rapat besar yang diadakan seminggu sekali. Dimana rapat tersebut dihadiri oleh para pemuda yang menggunakan bahasa dari generasi modern, dengan pemimpin rapatnya seorang pemuda asli dari pulau tersebut.
Setiap mengikuti rapat itu, si kakek agak kesulitan mengikuti bahasa yang digunakan oleh generasi modern tersebut. Dia berpikir kalau rapatnya seminggu skali maka akan lama untuk menyesuaikan telinganya dengan suara yang baru baginya. Awalnya dia mengharapkan kedatangan istri tercintanya supaya bisa berlatih tiap detik dengan bahasa generasi anak muda tersebut. Namun sayang istri tercintanya masih menunggu perahu yang akan membawanya ke pulau tersebut.
Setelah lama berpikir, akhirnya si kakek teringat akan suatu daerah tandus. Dimana disana terdapat sekelompok anak muda yang sering berkumpul lima kali dalam satu hari. mereka terus menerus mencangkul tanah yang tandus itu agar bisa menjadi lebih subur bagi hati mereka.
Setelah mengetahui bahwa di tanah tandus itu banyak pemuda yang menggunakan bahasa yang modern. Si kakek gembira skali karena dia telah menemukan solusi untuk meningkatkan pendengarannya terhadap bahasa yang aneh baginya. Dia mulai ikut menggali tanah yang tandus tersebut dengan tujuan utama berkomunikasi dengan sekelompok pemuda yang ada disana.
Hari demi hari berlalu, namun ada suatu keanehan yang terjadi pada diri si kakek. Dia merasakan suatu kenikmatan lain yang dirasakan hati si kakek pada saat dia mencangkul tanah yang tandus itu. Dia akhirnya lupa akan tujuan utamanya, dia mulai terbenam dalam kenikmatan yang luar biasa. Meskipun si kakek kadang-kadang bercakap dengan sekelompok pemuda itu. Tapi bagi si kakek percakapan itu bukan tujuan utama lagi. Tujuan utamanya beralih menjadi merasakan kenikmatan setiap cangkulan pada tanah tandus tersebut.
Meskipun di pagi hari yang sangat dingin dan menggetarkan badannya dimana hanya sedikit para pemuda yang datang pada saat itu. Si kakek tetap mendatanginya tanpa peduli ada tidaknya pemuda yang ingin diajaknya berbicara, sebab dia begitu merindukan dan menikmati setiap cangkulan pada tanah tandus tersebut. Karena begitu nikmatnya setiap cangkulan tersebut, si kakekpun mulai mencangkul di rumahnya pada tengah malam dan juga pada pagi hari. Si kakek baru sadar ternyata cangkulan di malam hari dan pagi hari sama nikmatnya dengan mencangkul lima kali dalam sehari di daerah tandus tersebut.
Di daerah tandus tersebut, ada seorang pemimpin yang selalu memberikan nasihat dalam satu minggu sekali dengan menggunakan bahasa modern. Ada salah satu nasehat yang begitu bermakna bagi si kakek tersebut yaitu "janganlah pernah merasa diri ahli surga dan jangan pernah pula mencap orang lain yang tidak melakukan cangkulan itu ahli neraka, sebab kita tidak tahu nasib kita pada saat meninggal nanti, semuanya bisa berbalik 180 derajat, namun yang perlu kita harapkan hanyalah berdoa dan berharap agar kita ditakdirkan menghembuskan napas terakhir dalam keadaan mencangkul tanah yang tandus".
Si kakek selalu merenungi nasihat pemimpin dari para pemuda yang sering mencangkul di tanah tandus tersebut, dan diapun membaca kitab sucinya:
Q.S. Al-Ankabuut(29)
Ayat 56:
"Hai hamba-hambaKu yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja."
Ayat 58-59
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya"
Ayat 60
"Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
Asy-Syams ayat 7-10,
''Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.''
Setelah membaca kitab sucinya, si kakek mengatakan dalam hati "Ternyata Aku Telah Jatuh Cinta Lagi"
-Gantira- Wollongong Australia
Minggu, 05 Maret 2006
Bersyukur Atas Ilmu Menghormati Ibu
Dua puluh sembilan tahun yang lalu, seorang ibu melahirkan seorang anak yang nampak normal seperti anak yang baru lahir lainnya. Saat melihat perkembangan anak tersebut, ibu itu jadi khawatir karena anaknya belum bisa bicara sebagaimana anak lain yang seusianya. Lalu ibu itu berdiskusi dengan dua orang kakak dari anak itu, mengenai solusi apa yang bisa dilakukan agar anak kecil itu bisa cepat bicara.
Dua orang kakaknya yang masih berumur sekitar 3 tahun dan 5 tahun mempunyai inisiatif, yaitu setiap hari jum'at siang mereka menempatkan adiknya di atas meja yang dilewati oleh orang-orang yang baru pulang dari menyembah Tuhannya. Kedua kakaknya itu meminta pada setiap orang yang menurut hati mereka doanya dikabulkan oleh Tuhannya, lalu anak kecil yang berumur 3 tahun selalu berucap pada orang-orang yang dihampirinya "Kek, Kak, Pak, mohon do'a kan adikku agar bisa cepat bicara ".
Orang-orang yang diminta itu lalu menghampiri anak yang belum bisa bicara, dan mulutnya mulai berkomat-kamit serta meniupkan angin pada kepala anak kecil itu. Kejadian yang tidak biasa itu terus berlangsung berbulan-bulan, sampai anak kecil itu bisa bicara dengan hanya satu kata "mama". Saat mulai menginjak umur 6 tahun, teman-teman sepermainan anak itu mulai memasuki SD, namun anak itu ditolak oleh semua SD yang ada karena meskipun badannya seukuran dengan yang lainnya tapi umur anak itu masih 1 tahun dibawah teman-teman sepermainannya. Anak kecil itu menahan kesedihan yang dalam karena tak dapat menikmati apa yang dinikmati oleh teman-temannya.
Ibunya bisa merasakan kesedihan anak itu, lalu ibu dan bapak anak itu berusaha mencari SD yang bisa menerimanya, dan akhirnya menemukan sebuah SD yang masih kurang muridnya dikarenakan kualitas SD tersebut tidaklah sehebat SD disekitarnya sehingga orang enggan memasukan anaknya ke SD tersebut.
Anak kecil itu baru bisa membaca huruf A, B sampai Z saat menginjak kelas 2 SD. Rata-ratanya tidak pernah menginjak diatas angka 7 apalagi 8 sehingga rangkingnya di kelas selalu rangking di bawah 3 dari bawah. Ibunya sangat menyayangi anak itu walaupun menyadari kebodohan anaknya itu yang sangat jauh berbeda dengan saudara-saudaranya yang selalu mendapat rata-rata di atas 7 bahkan 8 serta rangkingnya selalu di bawah 3 dari atas.
Pada saat menginjak kelas 4 SD, anak itu di asramakan pada sebuah pesantren yang cukup terkenal di kota Bandung. Lamanya sekitar 2 bulan selama liburan sekolah SD saat itu. Pada saat di pesantren banyak sekali ilmu yang dijejali ke dalam otaknya, tapi tak satupun yang bisa diingat dan dipahami. Sehingga dia sering menjadi anak yang menggangu bagi proses belajar di pesantren itu. Dan anak itupun terus menerus dipindah-pindahkan dari satu kelas ke kelas yang dibawahnya secara periodik.
Pada saat semua anak-anak dengan jumlah ratusan yang ada di pesantren itu duduk bersama untuk mendengarkan nasihat dari seorang 'Buya' yang menjadi sesepuh di pesantren besar itu. Buya berkata "hai anak-anakku jika dirimu menghormati ibumu sehingga ibumu menjadi bahagia dengan kelakuan dirimu padanya, maka pahala yang didapatkan dirimu jauh lebih besar daripada pahala orang yang ibadah haji dengan ikhlas". Anak itu sangat bahagia karena dia mendapatkan sebuah ilmu yang sangat berharga baginya.
Setelah pendidikan di pesantren itu selesai, banyak dari teman-temannya yang menjadi pintar dalam berbagai ilmu agama, ada yang bisa menghapal surat-surat dari kitab suci, ada yang bisa menghapal do'a-do'a, ada yang hapal semua perkataan nabi tercinta dan banyak lagi teman-temannya yang menjadi sangat pintar dalam ilmu agama tersebut. Saat anak itu pulang ke rumah ibunya, dan ditanya oleh ibunya "ilmu apa yang dirimu dapatkan anakku", si anak menjawab dengan bahagia "saya hanya mempunyai satu ilmu yang akan ku ingat dan kulaksanakan selama hidupku, yaitu menghormati dan membuat hati bahagia 'mama'".
Sejak saat itu, pada saat dia keluar rumah si anak selalu mencium tangan ibunya dengan niat untuk menghormati dan membahagiakan ibunya. Ibunya selalu berkata "Anakku, semoga apa yang dirimu inginkan terkabulkan oleh Tuhan Semesta Alam", anak itu sering melakukannya saat keluar rumah walaupun hanya sekedar membeli sebuah permen.
Kemudian saat dia masuk kembali di sekolah SD nya, didalam hatinya hanya ada satu keinginan, yaitu mendapatkan nilai di buku sekolahnya di atas 7 walaupun menurut dirinya itu tidaklah mungkin dengan kemampuan otaknya yang sangat bodoh. Namun keajaiban terjadi, dia mendapatkan nilai yang diinginkannya ketika menginjak kelas 6 SD. Setelah mendapatkannya maka cita-citanya berganti yaitu ingin masuk SMP negeri.
Saat Nem SD dibagikan, anak itu memperoleh nilai yang sangat bagus menurut anak itu, namun sangat jelek menurut teman-teman yang lainnya. Tapi anak itu tetap bersyukur dengan nilai yang diluar dugaannya. Dia akhirnya masuk SMP dengan nilai terkecil dari SMP negeri itu adalah nilai Nem dirinya. Saat masuk SMP, cita-citanya berubah lagi yaitu ingin mencoba merasakan masuk rangking dibawah 3 dari atas. Akhirnya keinginannya terpenuhi pada saat kelas tiga SMP.
Kemudian cita-citanyapun berubah lagi yaitu ingin masuk SMA negeri di kota, lagi-lagi keinginannya terpenuhi dan dia memasuki SMA di kota dengan nilai Nem terendah adalah nilai Nem dirinya. Saat masuk SMA dia berubah lagi cita-citanya, dia ingin menjadi murid terbaik di sekolah itu. Akhirnya cita-citanya terpenuhi saat berada di kelas 3 SMA dan kemudian diapun bisa memasuki sekolah tinggi terkenal di Indonesia.
Suatu hari anak itu bertemu dengan teman-teman kecilnya, dan menanyakan sekolah tinggi yang digelutinya saat itu. Saat anak itu menjawab pertanyaan teman-teman kecilnya, mereka tidak percaya dan menganggap anak itu berbohong. Namun anak itu tidaklah marah karena dia sendiripun tidak percaya pada rizqi yang didapatinya, yang ia lakukan hanyalah bersyukur kepada Tuhannya dan lebih memperdalam mengenai "Ilmu Menghormati Ibu".
Saat memasuki sekolah tinggi, si anak itu tidaklah terlalu pintar dibanding teman-temannya yang sangat cerdas dan jenius. Tapi anehnya lagi hanya anak itu yang sering lolos mendapatkan beberapa beasiswa dengan nilai uang yang cukup besar, bahkan melebihi seluruh biaya sekolahnya saat itu. Teman-teman kuliahnya dan si anak itu heran dengan apa yang terjadi, namun sekali lagi yang dilakukan anak yang bodoh itu hanya bersyukur dan lebih memperdalam "Ilmu menghormati Ibu".
Setelah keluar dari sekolah tinggi yang cukup bergengsi itu, dia mulai kerja pada perusahaan dosennya. Pada saat mulai kerja di tempat itu, dia melihat seorang ibu yang merupakan adik dari bosnya yang nampak kesulitan membuat gambar untuk desertasinya. Si anak melihat ibu itu bagai melihat ibunya sendiri, dan dia mulai mengaplikasikan ilmu andalannya yaitu "Ilmu Menghormati Ibu". Anak itu membantunya dengan ikhlas, karena dia merasa ibu itu adalah ibunya sendiri. Anehnya lagi ibu itu akhirnya menjadi ibu dari pacarnya yang baru dikenalnya.
Kemudian anak itu diterima di instansi pemerintah yang baru berdiri. Salah satu dari atasannya adalah seorang ibu, dia melihat atasannya bagaikan melihat ibunya dan lagi-lagi si anak itu mulai mengaplikasikan "Ilmu Menghormati Ibu". Akhirnya walaupun ibu itu tidak begitu disukai oleh teman-teman anak itu, tapi dia begitu sayang pada anak buahnya itu sehingga ke daerah manapun ibu itu pergi, dia selalu membawa anak yang selalu mengamalkan ilmunya tersebut.
Setelah 2 tahun, si anak itu lagi-lagi mendapatkan rizqi yaitu dia mendaftar beasiswa sekolah S2 bersama teman-teman di instansinya. Dari kemampuan bahasa inggrisnya si anak itu jauh dibawah teman-temannya yang sangat pintar dan sering menerjemahkan buku-buku bahasa inggris ke indonesia. Sekali lagi anehnya yang keterima hanya berdua, salah satunya si anak yang bodoh itu.
Saat mengikuti kursus di jakarta, pada hari pertama gabung bersama yang akan dikirim keluar negeri namun karena bodohnya dalam bahasa inggris, di hari kedua dia di pindah ke kelas yang di fokuskan untuk sekolah di dalam negeri. Anak itu awalnya kecewa, tapi akhirnya dia mensyukurinya karena dia merasa memang sangat bodoh. Dikelasnya yang baru banyak dari teman-temannya yang berusaha mati-matian untuk merubah tujuannya agar bisa sekolah keluar negeri.
Namun si anak itu hanyalah cukup mensyukuri apa yang didapatinya, pada saat selesai kursus itu, anehnya yang diputuskan oleh panitia untuk ke negeri kangguru dari kelas itu adalah anak itu beserta seorang sahabatnya yang sama-sama tidak berambisi ke negeri kangguru. Untuk mensyukurinya, anak itu mulai menerapkan kembali "Ilmu Menghormati Ibu", dia menelpon ibunya dan mengatakan bahwa selama dia di negeri kangguru semua gajihnya untuk ibunya .
Pacar anak itu mengharapkan untuk menikah terlebih dahulu, si anak dalam hatinya gembira dan mengiyakan juga namun ada satu hal yang mengganjal dalam hatinya, yaitu dia sudah menjanjikan gajinya untuk ibunya. Anak itu bingung menjawab ya, sebelum ada solusi dari kebimbangan hatinya. Namun pada saat bertemu ibunya tanpa keluar satu patah katapun dari anak itu, ibunya seakan mengerti dan paham akan kegelisahan anak itu dan berkata "Anakku, mama ucapkan banyak terima kasih atas niat baikmu, namun gajihnya biarlah disimpan untuk bekalmu nanti".
Mendengar ucapan ibunya, anak itu merasa lega dan mulai mengatakan niatnya untuk mempersunting pacarnya. Dan akhirnya pernikahanpun terlaksana. Sebelum berangkat ke negeri kangguru, anak itu berpesan pada istrinya agar meneruskan dan menerapkan ilmu yang hanya ada satu di otaknya yaitu "ilmu menghormati ibu", setelah istrinya mengiyakan barulah anak itu berangkat dengan hati yang tenang.
Pada saat di negeri kangguru, anak itu dikursuskan terlebih dahulu bersama teman-temannya yang sangat bagus dalam berbahasa inggris. Setiap ujian si anak itu selalu dapat nilai terbawah, namun anak itu tidaklah kecewa karena dia menyadari akan kebodohannya, yang dia lakukan hanyalah bersukur dan terus menerapkan "Ilmu Menghormati Ibu" dimana dia tiap minggu selalu menelpon ibunya, juga menelpon istrinya yang diakhiri dengan nasehat agar slalu menerapkan"Ilmu Menghormati Ibu"
Pada saat kursus hampir mendekati selesai, anehnya lagi si anak mendapatkan nilai yang bagus. Dan lebih aneh lagi anak itu mendapatkan penghargaan bersama salah seorang yang telah diberkahi Tuhan dalam menghapal semua firmanNya. Teman-teman dan Anak itu sungguh bingung, padahal anak itu anak yang paling bodoh tapi bisa mendapatkan penghargaan bersama anak yang paling pintar. Yang dia lakukan hanya bersyukur karena penghargaan itu diluar kemampuan otaknya yang bodoh. Anak itu tidaklah merasa dirinya pintar dikarenakan mendapatkan penghargaan tersebut. Dia hanya terus bersyukur dan lebih memperdalam "Ilmu Menghormati Ibu".
Anak itu dari kecil sampai saat ini sering bermimpi dalam tidurnya dengan mimpi yang aneh-aneh, dulu waktu kecil pernah bermimpi menemukan uang dan besoknya memang menemukan uang. Dulu dia bermimpi rumahnya bertingkat serta ada mobil kijang yang berwarna biru, dan anehnya lagi itu terjadi saat dia masuk SMA. Anak itupun pernah bermimpi bertemu dan ngobrol dengan presiden Soekarno, Habibie, Gusdur, SBY, bahkan presiden Cina, Jerman, dan Amerika. Tapi anak itu merasa bahwa itu hanya mimpi dan mimpi adalah bunga tidur.
Setelah dia sering merenung mengenai negerinya, si anak kecil itu mempunyai cita-cita yang sangat tidak mungkin bagi otaknya yang sangat bodoh. Dia bercita-cita ingin jadi presiden di negerinya. Dia ingin menerapkan ilmunya yang hanya satu di otaknya, yaitu "Ilmu Menghormati Ibu". Dia ingin membahagiakan hati ibunya serta semua wanita penduduk indonesia, walaupun wanita itu masih kecil tapi dia adalah calon seorang ibu.
Anak itu berharap bahwa dengan membahagiakan semua ibu dan calon ibu, maka akan membuat effek ekonomi yang baik. Karena saat ibu dan calon ibu itu bahagia maka suaminya, anak laki-lakinya, ayahnya, saudara laki-lakinya dan semua warga indonesia akan menjadi ikut bahagia juga.Tapi itu hanyalah sebuah cita-cita yang tidak mungkin menurut otak manusia umumnya. Karena ilmu anak itu hanya bisa mensyukuri telah mendapatkan satu ilmu, yaitu "Ilmu Menghormati Ibu".
Lalu anak itu membaca kitab sucinya,
Q.S Al An'aam (6) ayat 53:
'Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" '
Q.S. Al Hajj (22) ayat 38:
"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari ni'mat"
Anak itu membaca kitab suci ini, dia semakin bersujud dan bersyukur atas ilmunya yang hanya satu yang akan selalu diingat dan diamalkan selama hidupnya, yaitu "Ilmu Menghormati Ibu"
-Gantira- Wollongong Australia
Dua orang kakaknya yang masih berumur sekitar 3 tahun dan 5 tahun mempunyai inisiatif, yaitu setiap hari jum'at siang mereka menempatkan adiknya di atas meja yang dilewati oleh orang-orang yang baru pulang dari menyembah Tuhannya. Kedua kakaknya itu meminta pada setiap orang yang menurut hati mereka doanya dikabulkan oleh Tuhannya, lalu anak kecil yang berumur 3 tahun selalu berucap pada orang-orang yang dihampirinya "Kek, Kak, Pak, mohon do'a kan adikku agar bisa cepat bicara ".
Orang-orang yang diminta itu lalu menghampiri anak yang belum bisa bicara, dan mulutnya mulai berkomat-kamit serta meniupkan angin pada kepala anak kecil itu. Kejadian yang tidak biasa itu terus berlangsung berbulan-bulan, sampai anak kecil itu bisa bicara dengan hanya satu kata "mama". Saat mulai menginjak umur 6 tahun, teman-teman sepermainan anak itu mulai memasuki SD, namun anak itu ditolak oleh semua SD yang ada karena meskipun badannya seukuran dengan yang lainnya tapi umur anak itu masih 1 tahun dibawah teman-teman sepermainannya. Anak kecil itu menahan kesedihan yang dalam karena tak dapat menikmati apa yang dinikmati oleh teman-temannya.
Ibunya bisa merasakan kesedihan anak itu, lalu ibu dan bapak anak itu berusaha mencari SD yang bisa menerimanya, dan akhirnya menemukan sebuah SD yang masih kurang muridnya dikarenakan kualitas SD tersebut tidaklah sehebat SD disekitarnya sehingga orang enggan memasukan anaknya ke SD tersebut.
Anak kecil itu baru bisa membaca huruf A, B sampai Z saat menginjak kelas 2 SD. Rata-ratanya tidak pernah menginjak diatas angka 7 apalagi 8 sehingga rangkingnya di kelas selalu rangking di bawah 3 dari bawah. Ibunya sangat menyayangi anak itu walaupun menyadari kebodohan anaknya itu yang sangat jauh berbeda dengan saudara-saudaranya yang selalu mendapat rata-rata di atas 7 bahkan 8 serta rangkingnya selalu di bawah 3 dari atas.
Pada saat menginjak kelas 4 SD, anak itu di asramakan pada sebuah pesantren yang cukup terkenal di kota Bandung. Lamanya sekitar 2 bulan selama liburan sekolah SD saat itu. Pada saat di pesantren banyak sekali ilmu yang dijejali ke dalam otaknya, tapi tak satupun yang bisa diingat dan dipahami. Sehingga dia sering menjadi anak yang menggangu bagi proses belajar di pesantren itu. Dan anak itupun terus menerus dipindah-pindahkan dari satu kelas ke kelas yang dibawahnya secara periodik.
Pada saat semua anak-anak dengan jumlah ratusan yang ada di pesantren itu duduk bersama untuk mendengarkan nasihat dari seorang 'Buya' yang menjadi sesepuh di pesantren besar itu. Buya berkata "hai anak-anakku jika dirimu menghormati ibumu sehingga ibumu menjadi bahagia dengan kelakuan dirimu padanya, maka pahala yang didapatkan dirimu jauh lebih besar daripada pahala orang yang ibadah haji dengan ikhlas". Anak itu sangat bahagia karena dia mendapatkan sebuah ilmu yang sangat berharga baginya.
Setelah pendidikan di pesantren itu selesai, banyak dari teman-temannya yang menjadi pintar dalam berbagai ilmu agama, ada yang bisa menghapal surat-surat dari kitab suci, ada yang bisa menghapal do'a-do'a, ada yang hapal semua perkataan nabi tercinta dan banyak lagi teman-temannya yang menjadi sangat pintar dalam ilmu agama tersebut. Saat anak itu pulang ke rumah ibunya, dan ditanya oleh ibunya "ilmu apa yang dirimu dapatkan anakku", si anak menjawab dengan bahagia "saya hanya mempunyai satu ilmu yang akan ku ingat dan kulaksanakan selama hidupku, yaitu menghormati dan membuat hati bahagia 'mama'".
Sejak saat itu, pada saat dia keluar rumah si anak selalu mencium tangan ibunya dengan niat untuk menghormati dan membahagiakan ibunya. Ibunya selalu berkata "Anakku, semoga apa yang dirimu inginkan terkabulkan oleh Tuhan Semesta Alam", anak itu sering melakukannya saat keluar rumah walaupun hanya sekedar membeli sebuah permen.
Kemudian saat dia masuk kembali di sekolah SD nya, didalam hatinya hanya ada satu keinginan, yaitu mendapatkan nilai di buku sekolahnya di atas 7 walaupun menurut dirinya itu tidaklah mungkin dengan kemampuan otaknya yang sangat bodoh. Namun keajaiban terjadi, dia mendapatkan nilai yang diinginkannya ketika menginjak kelas 6 SD. Setelah mendapatkannya maka cita-citanya berganti yaitu ingin masuk SMP negeri.
Saat Nem SD dibagikan, anak itu memperoleh nilai yang sangat bagus menurut anak itu, namun sangat jelek menurut teman-teman yang lainnya. Tapi anak itu tetap bersyukur dengan nilai yang diluar dugaannya. Dia akhirnya masuk SMP dengan nilai terkecil dari SMP negeri itu adalah nilai Nem dirinya. Saat masuk SMP, cita-citanya berubah lagi yaitu ingin mencoba merasakan masuk rangking dibawah 3 dari atas. Akhirnya keinginannya terpenuhi pada saat kelas tiga SMP.
Kemudian cita-citanyapun berubah lagi yaitu ingin masuk SMA negeri di kota, lagi-lagi keinginannya terpenuhi dan dia memasuki SMA di kota dengan nilai Nem terendah adalah nilai Nem dirinya. Saat masuk SMA dia berubah lagi cita-citanya, dia ingin menjadi murid terbaik di sekolah itu. Akhirnya cita-citanya terpenuhi saat berada di kelas 3 SMA dan kemudian diapun bisa memasuki sekolah tinggi terkenal di Indonesia.
Suatu hari anak itu bertemu dengan teman-teman kecilnya, dan menanyakan sekolah tinggi yang digelutinya saat itu. Saat anak itu menjawab pertanyaan teman-teman kecilnya, mereka tidak percaya dan menganggap anak itu berbohong. Namun anak itu tidaklah marah karena dia sendiripun tidak percaya pada rizqi yang didapatinya, yang ia lakukan hanyalah bersyukur kepada Tuhannya dan lebih memperdalam mengenai "Ilmu Menghormati Ibu".
Saat memasuki sekolah tinggi, si anak itu tidaklah terlalu pintar dibanding teman-temannya yang sangat cerdas dan jenius. Tapi anehnya lagi hanya anak itu yang sering lolos mendapatkan beberapa beasiswa dengan nilai uang yang cukup besar, bahkan melebihi seluruh biaya sekolahnya saat itu. Teman-teman kuliahnya dan si anak itu heran dengan apa yang terjadi, namun sekali lagi yang dilakukan anak yang bodoh itu hanya bersyukur dan lebih memperdalam "Ilmu menghormati Ibu".
Setelah keluar dari sekolah tinggi yang cukup bergengsi itu, dia mulai kerja pada perusahaan dosennya. Pada saat mulai kerja di tempat itu, dia melihat seorang ibu yang merupakan adik dari bosnya yang nampak kesulitan membuat gambar untuk desertasinya. Si anak melihat ibu itu bagai melihat ibunya sendiri, dan dia mulai mengaplikasikan ilmu andalannya yaitu "Ilmu Menghormati Ibu". Anak itu membantunya dengan ikhlas, karena dia merasa ibu itu adalah ibunya sendiri. Anehnya lagi ibu itu akhirnya menjadi ibu dari pacarnya yang baru dikenalnya.
Kemudian anak itu diterima di instansi pemerintah yang baru berdiri. Salah satu dari atasannya adalah seorang ibu, dia melihat atasannya bagaikan melihat ibunya dan lagi-lagi si anak itu mulai mengaplikasikan "Ilmu Menghormati Ibu". Akhirnya walaupun ibu itu tidak begitu disukai oleh teman-teman anak itu, tapi dia begitu sayang pada anak buahnya itu sehingga ke daerah manapun ibu itu pergi, dia selalu membawa anak yang selalu mengamalkan ilmunya tersebut.
Setelah 2 tahun, si anak itu lagi-lagi mendapatkan rizqi yaitu dia mendaftar beasiswa sekolah S2 bersama teman-teman di instansinya. Dari kemampuan bahasa inggrisnya si anak itu jauh dibawah teman-temannya yang sangat pintar dan sering menerjemahkan buku-buku bahasa inggris ke indonesia. Sekali lagi anehnya yang keterima hanya berdua, salah satunya si anak yang bodoh itu.
Saat mengikuti kursus di jakarta, pada hari pertama gabung bersama yang akan dikirim keluar negeri namun karena bodohnya dalam bahasa inggris, di hari kedua dia di pindah ke kelas yang di fokuskan untuk sekolah di dalam negeri. Anak itu awalnya kecewa, tapi akhirnya dia mensyukurinya karena dia merasa memang sangat bodoh. Dikelasnya yang baru banyak dari teman-temannya yang berusaha mati-matian untuk merubah tujuannya agar bisa sekolah keluar negeri.
Namun si anak itu hanyalah cukup mensyukuri apa yang didapatinya, pada saat selesai kursus itu, anehnya yang diputuskan oleh panitia untuk ke negeri kangguru dari kelas itu adalah anak itu beserta seorang sahabatnya yang sama-sama tidak berambisi ke negeri kangguru. Untuk mensyukurinya, anak itu mulai menerapkan kembali "Ilmu Menghormati Ibu", dia menelpon ibunya dan mengatakan bahwa selama dia di negeri kangguru semua gajihnya untuk ibunya .
Pacar anak itu mengharapkan untuk menikah terlebih dahulu, si anak dalam hatinya gembira dan mengiyakan juga namun ada satu hal yang mengganjal dalam hatinya, yaitu dia sudah menjanjikan gajinya untuk ibunya. Anak itu bingung menjawab ya, sebelum ada solusi dari kebimbangan hatinya. Namun pada saat bertemu ibunya tanpa keluar satu patah katapun dari anak itu, ibunya seakan mengerti dan paham akan kegelisahan anak itu dan berkata "Anakku, mama ucapkan banyak terima kasih atas niat baikmu, namun gajihnya biarlah disimpan untuk bekalmu nanti".
Mendengar ucapan ibunya, anak itu merasa lega dan mulai mengatakan niatnya untuk mempersunting pacarnya. Dan akhirnya pernikahanpun terlaksana. Sebelum berangkat ke negeri kangguru, anak itu berpesan pada istrinya agar meneruskan dan menerapkan ilmu yang hanya ada satu di otaknya yaitu "ilmu menghormati ibu", setelah istrinya mengiyakan barulah anak itu berangkat dengan hati yang tenang.
Pada saat di negeri kangguru, anak itu dikursuskan terlebih dahulu bersama teman-temannya yang sangat bagus dalam berbahasa inggris. Setiap ujian si anak itu selalu dapat nilai terbawah, namun anak itu tidaklah kecewa karena dia menyadari akan kebodohannya, yang dia lakukan hanyalah bersukur dan terus menerapkan "Ilmu Menghormati Ibu" dimana dia tiap minggu selalu menelpon ibunya, juga menelpon istrinya yang diakhiri dengan nasehat agar slalu menerapkan"Ilmu Menghormati Ibu"
Pada saat kursus hampir mendekati selesai, anehnya lagi si anak mendapatkan nilai yang bagus. Dan lebih aneh lagi anak itu mendapatkan penghargaan bersama salah seorang yang telah diberkahi Tuhan dalam menghapal semua firmanNya. Teman-teman dan Anak itu sungguh bingung, padahal anak itu anak yang paling bodoh tapi bisa mendapatkan penghargaan bersama anak yang paling pintar. Yang dia lakukan hanya bersyukur karena penghargaan itu diluar kemampuan otaknya yang bodoh. Anak itu tidaklah merasa dirinya pintar dikarenakan mendapatkan penghargaan tersebut. Dia hanya terus bersyukur dan lebih memperdalam "Ilmu Menghormati Ibu".
Anak itu dari kecil sampai saat ini sering bermimpi dalam tidurnya dengan mimpi yang aneh-aneh, dulu waktu kecil pernah bermimpi menemukan uang dan besoknya memang menemukan uang. Dulu dia bermimpi rumahnya bertingkat serta ada mobil kijang yang berwarna biru, dan anehnya lagi itu terjadi saat dia masuk SMA. Anak itupun pernah bermimpi bertemu dan ngobrol dengan presiden Soekarno, Habibie, Gusdur, SBY, bahkan presiden Cina, Jerman, dan Amerika. Tapi anak itu merasa bahwa itu hanya mimpi dan mimpi adalah bunga tidur.
Setelah dia sering merenung mengenai negerinya, si anak kecil itu mempunyai cita-cita yang sangat tidak mungkin bagi otaknya yang sangat bodoh. Dia bercita-cita ingin jadi presiden di negerinya. Dia ingin menerapkan ilmunya yang hanya satu di otaknya, yaitu "Ilmu Menghormati Ibu". Dia ingin membahagiakan hati ibunya serta semua wanita penduduk indonesia, walaupun wanita itu masih kecil tapi dia adalah calon seorang ibu.
Anak itu berharap bahwa dengan membahagiakan semua ibu dan calon ibu, maka akan membuat effek ekonomi yang baik. Karena saat ibu dan calon ibu itu bahagia maka suaminya, anak laki-lakinya, ayahnya, saudara laki-lakinya dan semua warga indonesia akan menjadi ikut bahagia juga.Tapi itu hanyalah sebuah cita-cita yang tidak mungkin menurut otak manusia umumnya. Karena ilmu anak itu hanya bisa mensyukuri telah mendapatkan satu ilmu, yaitu "Ilmu Menghormati Ibu".
Lalu anak itu membaca kitab sucinya,
Q.S Al An'aam (6) ayat 53:
'Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" '
Q.S. Al Hajj (22) ayat 38:
"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari ni'mat"
Anak itu membaca kitab suci ini, dia semakin bersujud dan bersyukur atas ilmunya yang hanya satu yang akan selalu diingat dan diamalkan selama hidupnya, yaitu "Ilmu Menghormati Ibu"
-Gantira- Wollongong Australia
Minggu, 05 Februari 2006
Kenikmatan Yang Lenyap Begitu Cepat
Seorang ibu tua rabun yang mencari kebahagiaannya dengan menyulam tiap pagi di teras rumahnya. Banyak sekali orang yang lalu lalang melewati rumah ibu itu. Ada bebarapa orang yang ingin melihat hasil sulamannya, setelah melihatnya dia pergi tanpa ada kata apapun.
Dari sekian banyak orang yang lalu lalang, ada empat pemuda yang memperhatikan sulaman si ibu. pemuda pertama saat melihat hasil sulaman si ibu tua yang rabun, dia berkata "sulaman ibu tidak terlalu bagus, coba ibu perbaiki yang ini dan itu", pemuda pertama ini sering menghampiri si ibu untuk terus memberikan masukannya.
Pemuda kedua saat melihat sulaman si ibu, dia berkata "sulaman ibu bagus, coba teruskan dengan semangat ibu yang ada", pemuda kedua inipun sering menghampiri si ibu untuk terus memberikan semangatnya.
Pemuda ketiga saat melihat hasil sulaman si ibu tua, dia hanya berguman, namun si ibu tahu pemuda yang ketiga ini ahli dalam menyulam, karenanya si ibu mengharapkan kesediaannya jika si ibu berbuat keliru dalam menyulam agar cepat diingatkan, pemuda ini mulai memperhatikan si ibu dari jarak jauh.
Pemuda keempat saat melihat hasil sulaman si ibu tua, dia berkata " sulaman ibu jelek sekali, sebaiknya ibu hentikan kebiasaan ibu yang buruk itu", si ibu tua sangat kecewa, namun ketiga pemuda lainnya memberikan motivasi bahwa sulaman ibu untuk setingkat ibu yang sudah tua dan rabun cukup bagus.
Karena mendapatkan dorongan yang kuat dari 3 pemuda itu. Si ibu terus berusaha memperbaiki sulamannya, dan dia mulai merasakan kenikmatan dari tiap jahitan jarum yang ada pada sulamannya. Lama kelamaan hasil sulamannya cukup bagus, dan orang-orang yang dulu lalu lalang mulai memperhatikannya. Si ibu tua bangga dan dia mulai menunjukkan kesetiap orang yang baru dikenalnya agar mampir dan melihat sulamannya yang sangat bagus menurut si ibu.
Karena tahu sulaman si ibu mulai membaik dan didukung oleh pendapat para pengunjungnya, maka pemuda ke empat mengundang seorang kaisar yang cerdas dan kaya agar menghancurkan si ibu tua rabun itu. Lalu dengan akal liciknya si kaisar yang cerdas dan kaya itu mampir di malam hari ke rumah gubuk reyot si ibu tua, lalu dia menanyakan hasil sulamannya. Si ibu dengan bangga memperlihatkan padanya. Dengan otaknya yang cerdas dari si kaisar dia ingin melihat lebih jelas permukaan sulaman ibu itu, dengan bangganya lalu si ibu tua menyalakan korek api dan didekatkan lebih menempel ke hasil sulamannya agar si kaisar bisa melihat lebih jelas. Tapi seperti yang kita perkirakan sulaman itu langsung terbakar hangus. Dan kaisarpun pergi secara berlahan tanpa banyak kata.
Si ibu menangis dengan kehancuran sulaman yang dibanggakannya, dia menyesal mengapa menunjukkan sulamannya itu ke seorang kaisar yang tidak benar-benar berniat melihat kebagusannya. Si ibu sedih, dia harus memulai sulamannya dari awal kembali, namun kenikmatan yang dirasakan saat menyulam sudah hilang dari hatinya. Dia menangis bukan karena nikmatnya menyulam namun dia menangis karena kenikmatan menyulamnya telah hilang di hatinya. Si ibu berencana untuk menghentikan sulamannya, kemudian si ibu membaca QS. Adz Dzaariyaat (51) ayat 51-60:
'Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Ia itu adalah seorang tukang sihir atau orang gila"
Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan sekali-kali tidak tercela.
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat KokohMaka sesungguhnya untuk orang-orang zalim ada bahagian (siksa) seperti bahagian teman-teman mereka (dahulu); maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakannya.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka'-------
Si ibu tua yang rabun hanya bisa sedih membaca kitab suci ini karena si ibu tidak lagi merasakan kenikmatan di hatinya saat dia menyulam, dia menangis karena hilangnya kenikmatan itu. Dan dia mulai menyulam lagi dengan penuh keterpaksaan agar suatu saat bisa kembali menikmati kenikmatan di hatinya, tapi sayang seribu sayang si ibu tidak tahu kapan kenikmatan di hatinya bisa datang kembali pada dirinya....
-Gantira- Wollongong Australia
Dari sekian banyak orang yang lalu lalang, ada empat pemuda yang memperhatikan sulaman si ibu. pemuda pertama saat melihat hasil sulaman si ibu tua yang rabun, dia berkata "sulaman ibu tidak terlalu bagus, coba ibu perbaiki yang ini dan itu", pemuda pertama ini sering menghampiri si ibu untuk terus memberikan masukannya.
Pemuda kedua saat melihat sulaman si ibu, dia berkata "sulaman ibu bagus, coba teruskan dengan semangat ibu yang ada", pemuda kedua inipun sering menghampiri si ibu untuk terus memberikan semangatnya.
Pemuda ketiga saat melihat hasil sulaman si ibu tua, dia hanya berguman, namun si ibu tahu pemuda yang ketiga ini ahli dalam menyulam, karenanya si ibu mengharapkan kesediaannya jika si ibu berbuat keliru dalam menyulam agar cepat diingatkan, pemuda ini mulai memperhatikan si ibu dari jarak jauh.
Pemuda keempat saat melihat hasil sulaman si ibu tua, dia berkata " sulaman ibu jelek sekali, sebaiknya ibu hentikan kebiasaan ibu yang buruk itu", si ibu tua sangat kecewa, namun ketiga pemuda lainnya memberikan motivasi bahwa sulaman ibu untuk setingkat ibu yang sudah tua dan rabun cukup bagus.
Karena mendapatkan dorongan yang kuat dari 3 pemuda itu. Si ibu terus berusaha memperbaiki sulamannya, dan dia mulai merasakan kenikmatan dari tiap jahitan jarum yang ada pada sulamannya. Lama kelamaan hasil sulamannya cukup bagus, dan orang-orang yang dulu lalu lalang mulai memperhatikannya. Si ibu tua bangga dan dia mulai menunjukkan kesetiap orang yang baru dikenalnya agar mampir dan melihat sulamannya yang sangat bagus menurut si ibu.
Karena tahu sulaman si ibu mulai membaik dan didukung oleh pendapat para pengunjungnya, maka pemuda ke empat mengundang seorang kaisar yang cerdas dan kaya agar menghancurkan si ibu tua rabun itu. Lalu dengan akal liciknya si kaisar yang cerdas dan kaya itu mampir di malam hari ke rumah gubuk reyot si ibu tua, lalu dia menanyakan hasil sulamannya. Si ibu dengan bangga memperlihatkan padanya. Dengan otaknya yang cerdas dari si kaisar dia ingin melihat lebih jelas permukaan sulaman ibu itu, dengan bangganya lalu si ibu tua menyalakan korek api dan didekatkan lebih menempel ke hasil sulamannya agar si kaisar bisa melihat lebih jelas. Tapi seperti yang kita perkirakan sulaman itu langsung terbakar hangus. Dan kaisarpun pergi secara berlahan tanpa banyak kata.
Si ibu menangis dengan kehancuran sulaman yang dibanggakannya, dia menyesal mengapa menunjukkan sulamannya itu ke seorang kaisar yang tidak benar-benar berniat melihat kebagusannya. Si ibu sedih, dia harus memulai sulamannya dari awal kembali, namun kenikmatan yang dirasakan saat menyulam sudah hilang dari hatinya. Dia menangis bukan karena nikmatnya menyulam namun dia menangis karena kenikmatan menyulamnya telah hilang di hatinya. Si ibu berencana untuk menghentikan sulamannya, kemudian si ibu membaca QS. Adz Dzaariyaat (51) ayat 51-60:
'Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Ia itu adalah seorang tukang sihir atau orang gila"
Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan sekali-kali tidak tercela.
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat KokohMaka sesungguhnya untuk orang-orang zalim ada bahagian (siksa) seperti bahagian teman-teman mereka (dahulu); maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakannya.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka'-------
Si ibu tua yang rabun hanya bisa sedih membaca kitab suci ini karena si ibu tidak lagi merasakan kenikmatan di hatinya saat dia menyulam, dia menangis karena hilangnya kenikmatan itu. Dan dia mulai menyulam lagi dengan penuh keterpaksaan agar suatu saat bisa kembali menikmati kenikmatan di hatinya, tapi sayang seribu sayang si ibu tidak tahu kapan kenikmatan di hatinya bisa datang kembali pada dirinya....
-Gantira- Wollongong Australia
Minggu, 06 Februari 2005
Malam Yang Mengenaskan
Mam,,,mam,.. tolong…tolong..tolong…dady.dady,,dady….tolong…tolong..” suatu jeritan dari sebuah kamar seorang gadis yang sangat cantik. Semua orang yang ada dirumah itu langsung terbangun dan mereka mulai menggedor-gedor kamar gadis itu. “Ada apa wulan, ada apa anakku, ayo cepat buka pintunya..” teriak ibu dan bapaknya. Adiknya yang masih kecil hanya terpana dan tak bisa mengeluarkan sedikit katapun yang ingin keluar dari hatinya.
Suara jeritan itu terus menerus memekakkan telinga seisi rumah itu sampai terdengar ke tetangga sekitarnya. Para tetangga mulai berdatangan dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
Lalu semua sepakat untuk mendobrak kamar gadis itu. Dengan bantuan para tetangga mereka mulai mendobrak pintu yang terkunci rapat. Dengan bahunya mereka bergantian. Mengambil jarak sekitar dua meter dari pintu itu, lalu satu persatu mulai sekuat tenaga menuju ke arah pintu itu dan terdengan “ Brak ..” kemudian mundur lagi dan diulangi lagi tindakan itu terdengar lagi "brak” sampai akhirnya sedikit demi sedikit pintu terbuka”. Lalu tetangga lainnya langsung menendang pintu tersebut dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya pintu itu mulai tebuka dengan lebar.
Saat pintu terbuka, gadis itu terus menerus gelisah dalam tidurnya dan terus berteriak dengan teriakan yang menakutkan dan mengkhawatirkan seisi rumah. Lalu ibunya cepat mendekap anaknya dan cepat membangunkannya. “ Wulan..wulan.. bangun, ada apa nak” ibunya terus mendorong anak gadisnya itu dengan goyangan yang semakin keras.Lama kelamaan anak itu mulai terbangun dan dia cepat memeluk ibunya dengan ketakutan yang masih tampak di wajahnya. Dan keringat dingin membasahi seluruh tubuh gadis itu. Dia menangis dan menangis terus menerus dipelukan ibunya.
Dia mengatakan bahwa dia melihat ular yang sangat besar yang melilit mama dan dadynya serta terlihat seorang yang sangat menyeramkan dengan tubuh yang sangat besar dan memegang sebuah pecutan yang terbuat dari tembaga, ujung tembaga itu menyala-nyala bagaikan tembaga yang baru keluar dari sebuah coran yang sangat panas.
Dalam mimpinya, Gadis itu melihat orang yang sangat menyeramkan tersebut memecut dady dan mamanya sehingga tubuh orang tuanya hancur kemudian sembuh lalu dipecut lagi dan kejadian itu terus berulang tanpa henti. Suatu pemandangan yang sangat mengerikan serta nampak dari wajah mama dan didaynya menahan rasa sakit yang luar biasa dan terdengar teriakan yang membuat wulan menjerit melihat kedua orang tuanya mengalami penderitaan yang sangat hebat yang belum pernah dilihatnya dari film manapun juga.
Mendengarkan mimpi yang menyeramkan itu, ibunya hanya memandang anaknya serta pelukan yang semakin erat. Setelah lama berada dalam pelukan ibunya akhirnya tangisan gadis itu mereda dan wulan mulai menyadari bahwa dia hanya mimpi. Akhirnya satu persatu para tetangga mulai pamit kepada keluarga itu sehingga yang tertinggal hanya mereka berempat.
Mereka adalah sebuah keluarga dengan dua orang anak. Anak pertama bernama wulan yang sudah menginjak kelas 1 SMA, anak yang kedua bernama Toni dia baru menginjak 1 SMP. Ibu kedua anak itu bekerja sebagai seorang bendaharawan di sebuah perusahaan yang cukup besar dalam bidang property sedang suaminya sebagai seorang pejabat di sebuah Instansi. Mereka menempati rumah yang sangat besar, dengan tiga kendaraan roda empat yang sangat mahal dan satu sepeda motor dengan CC tinggi dirumahnya.
Ayahnya sering melakukan perjalanan dinas keluar kota serta diapun banyak mendapatkan uang yang melimpah ruah karena jabatan yang diembannya sangat memungkinkan untuk itu. Amplop dari berbagai perusahaan yang dimenangkan atas rekomendasinya mulai mentransper beberapa puluh juta ke rekeningnya. Disamping itu, bila dia melakukan perjalanan kedaerah-daerah yang ditujunya dia selalu mendapatkan servis yang luar biasa. 'Dunia gemerlap' adalah makanannya setiap malam.
Dengan alasan refresing dari tugasnya yang menumpuk, dia membenarkan semua kehidupan yang dijalaninya. Dan minuman keras menjadi minuman yang biasa menurutnya. Karena dia menganggap bahwa selama tidak memabukkan maka semua yang diminum adalah halal baginya.
Namun, pada saat acara resmi yang dibuka olehnya. Keluar kalimat-kalimat agama dan nasihat yang nampak dia sebagai seorang yang agung dengan kedalaman ilmunya yang nampak tinggi dan kesyahduannya yang nampak penghayatan dari setiap ucapannya. Dia selalu mengingatkan akan pentingnya bersedekah, berbakti bagi nusa dan bangsa serta berbagai ucapan dewa lainnya yang membuat terbuainya orang-orang yang mendengarkannya.
Sedang ibunya adalah seorang bendahara disebuah perusahaan kontraktor yang sangat besar. Setiap memenangkan proyek, ibu itu selalu mengeluarkan sejumlah uang untuk menservis para pejabat yang telah memenangkan proyek besar itu. Setiap arus kas yang keluar dari perusahaan kontraktor itu selalu ada tanda tangan dari dirinya. Dan dia mengetahui kemana saja uang yang keluar digunakan. Namun, diamping dia mengeluarkan uang untuk orang lain diapun mengeluarkan uang untuk dirinya juga dengan jumlah yang cukup besar.
Dia menservis dan mengeluarkan uang yang sangat besar itu untuk membuat para pejabat menjadi senang dan merasa kerasan dengan kerjasama yang baik yang telah mereka lakukan.Keluarga itu berlimpahkan harta yang sangat banyak dan membuat semua teman-teman sekantor serta para tetangga menghormati dirinya. Mereka terkenal sebagai orang yang sangat mudah menyumbang untuk para tetangganya, untuk teman-teman kantornya serta semua yang mereka temui. Setiap ada fakir miskin mereka selalu menyumbangkan hartanya. Begitu pula pada saat ada acara-acara keagamaan ataupun pembangunan tempat ibadah yang membutuhkan dana yang besar. Keluarga itu selalu menjadi penyumbang terbesar di tempat itu.
Sehingga para tetangga dan semua teman-temannya menganggap keluarga itu sebagai keluarga yang dermawan serta mengagungkannya bagaikan ratu adil yang selalu siap membantu mereka. Keluarga itu kalau berlibur tidak hanya ke negara-negara eropa tapi juga melakukan umroh untuk menanamkan agama pada kedua anak mereka. Mereka dipandang sebagai orang yang bahagia didunia dan diperkirakan akan bahagia juga diakhirat.
Para tetangga dan teman-teman sejawatnya sangat merindukan suatu keluarga dan kehidupan seperti yang keluarga itu alami karena mereka melihat suatu kesempurnaan keluarga yang sangat cocok dan ideal menurut pandangan mereka.
Ketika mimpi menyeramkan yang dialami wulan terjadi membuat kedua orang tua wulan termenung. Mereka mulai mencoba memahami keadaan dan kehidupan yang mereka alami. Mereka mencoba merenungi mimpi anak gadisnya itu, bagaikan suatu keadaan dan situasi yang sangat bertentangan dengan yang mereka bayangkan. Mereka merasa telah banyak beramal dengan sumbangan-sumbangan untuk para tetangganya, tempat ibadah serta ibadah dan umroh yang sering mereka ulangi setiap tahun.
Mereka tetap merasa heran apakah amal yang mereka lakukan itu seimbang dengan mimpi anaknya atau apa yang sebenarnya terjadi. Atau apakah mereka hanya akan menganggapnya sebagai mimpi anak kecil yang akan berlalu begitiu saja. Nampak diwajah mereka terus termenung tentang mimpi yang dialami oleh anak gadisnya. Dan pertanyaan itu terus meliputi batin mereka.
-Gantira- Jakarta
Suara jeritan itu terus menerus memekakkan telinga seisi rumah itu sampai terdengar ke tetangga sekitarnya. Para tetangga mulai berdatangan dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
Lalu semua sepakat untuk mendobrak kamar gadis itu. Dengan bantuan para tetangga mereka mulai mendobrak pintu yang terkunci rapat. Dengan bahunya mereka bergantian. Mengambil jarak sekitar dua meter dari pintu itu, lalu satu persatu mulai sekuat tenaga menuju ke arah pintu itu dan terdengan “ Brak ..” kemudian mundur lagi dan diulangi lagi tindakan itu terdengar lagi "brak” sampai akhirnya sedikit demi sedikit pintu terbuka”. Lalu tetangga lainnya langsung menendang pintu tersebut dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya pintu itu mulai tebuka dengan lebar.
Saat pintu terbuka, gadis itu terus menerus gelisah dalam tidurnya dan terus berteriak dengan teriakan yang menakutkan dan mengkhawatirkan seisi rumah. Lalu ibunya cepat mendekap anaknya dan cepat membangunkannya. “ Wulan..wulan.. bangun, ada apa nak” ibunya terus mendorong anak gadisnya itu dengan goyangan yang semakin keras.Lama kelamaan anak itu mulai terbangun dan dia cepat memeluk ibunya dengan ketakutan yang masih tampak di wajahnya. Dan keringat dingin membasahi seluruh tubuh gadis itu. Dia menangis dan menangis terus menerus dipelukan ibunya.
Dia mengatakan bahwa dia melihat ular yang sangat besar yang melilit mama dan dadynya serta terlihat seorang yang sangat menyeramkan dengan tubuh yang sangat besar dan memegang sebuah pecutan yang terbuat dari tembaga, ujung tembaga itu menyala-nyala bagaikan tembaga yang baru keluar dari sebuah coran yang sangat panas.
Dalam mimpinya, Gadis itu melihat orang yang sangat menyeramkan tersebut memecut dady dan mamanya sehingga tubuh orang tuanya hancur kemudian sembuh lalu dipecut lagi dan kejadian itu terus berulang tanpa henti. Suatu pemandangan yang sangat mengerikan serta nampak dari wajah mama dan didaynya menahan rasa sakit yang luar biasa dan terdengar teriakan yang membuat wulan menjerit melihat kedua orang tuanya mengalami penderitaan yang sangat hebat yang belum pernah dilihatnya dari film manapun juga.
Mendengarkan mimpi yang menyeramkan itu, ibunya hanya memandang anaknya serta pelukan yang semakin erat. Setelah lama berada dalam pelukan ibunya akhirnya tangisan gadis itu mereda dan wulan mulai menyadari bahwa dia hanya mimpi. Akhirnya satu persatu para tetangga mulai pamit kepada keluarga itu sehingga yang tertinggal hanya mereka berempat.
Mereka adalah sebuah keluarga dengan dua orang anak. Anak pertama bernama wulan yang sudah menginjak kelas 1 SMA, anak yang kedua bernama Toni dia baru menginjak 1 SMP. Ibu kedua anak itu bekerja sebagai seorang bendaharawan di sebuah perusahaan yang cukup besar dalam bidang property sedang suaminya sebagai seorang pejabat di sebuah Instansi. Mereka menempati rumah yang sangat besar, dengan tiga kendaraan roda empat yang sangat mahal dan satu sepeda motor dengan CC tinggi dirumahnya.
Ayahnya sering melakukan perjalanan dinas keluar kota serta diapun banyak mendapatkan uang yang melimpah ruah karena jabatan yang diembannya sangat memungkinkan untuk itu. Amplop dari berbagai perusahaan yang dimenangkan atas rekomendasinya mulai mentransper beberapa puluh juta ke rekeningnya. Disamping itu, bila dia melakukan perjalanan kedaerah-daerah yang ditujunya dia selalu mendapatkan servis yang luar biasa. 'Dunia gemerlap' adalah makanannya setiap malam.
Dengan alasan refresing dari tugasnya yang menumpuk, dia membenarkan semua kehidupan yang dijalaninya. Dan minuman keras menjadi minuman yang biasa menurutnya. Karena dia menganggap bahwa selama tidak memabukkan maka semua yang diminum adalah halal baginya.
Namun, pada saat acara resmi yang dibuka olehnya. Keluar kalimat-kalimat agama dan nasihat yang nampak dia sebagai seorang yang agung dengan kedalaman ilmunya yang nampak tinggi dan kesyahduannya yang nampak penghayatan dari setiap ucapannya. Dia selalu mengingatkan akan pentingnya bersedekah, berbakti bagi nusa dan bangsa serta berbagai ucapan dewa lainnya yang membuat terbuainya orang-orang yang mendengarkannya.
Sedang ibunya adalah seorang bendahara disebuah perusahaan kontraktor yang sangat besar. Setiap memenangkan proyek, ibu itu selalu mengeluarkan sejumlah uang untuk menservis para pejabat yang telah memenangkan proyek besar itu. Setiap arus kas yang keluar dari perusahaan kontraktor itu selalu ada tanda tangan dari dirinya. Dan dia mengetahui kemana saja uang yang keluar digunakan. Namun, diamping dia mengeluarkan uang untuk orang lain diapun mengeluarkan uang untuk dirinya juga dengan jumlah yang cukup besar.
Dia menservis dan mengeluarkan uang yang sangat besar itu untuk membuat para pejabat menjadi senang dan merasa kerasan dengan kerjasama yang baik yang telah mereka lakukan.Keluarga itu berlimpahkan harta yang sangat banyak dan membuat semua teman-teman sekantor serta para tetangga menghormati dirinya. Mereka terkenal sebagai orang yang sangat mudah menyumbang untuk para tetangganya, untuk teman-teman kantornya serta semua yang mereka temui. Setiap ada fakir miskin mereka selalu menyumbangkan hartanya. Begitu pula pada saat ada acara-acara keagamaan ataupun pembangunan tempat ibadah yang membutuhkan dana yang besar. Keluarga itu selalu menjadi penyumbang terbesar di tempat itu.
Sehingga para tetangga dan semua teman-temannya menganggap keluarga itu sebagai keluarga yang dermawan serta mengagungkannya bagaikan ratu adil yang selalu siap membantu mereka. Keluarga itu kalau berlibur tidak hanya ke negara-negara eropa tapi juga melakukan umroh untuk menanamkan agama pada kedua anak mereka. Mereka dipandang sebagai orang yang bahagia didunia dan diperkirakan akan bahagia juga diakhirat.
Para tetangga dan teman-teman sejawatnya sangat merindukan suatu keluarga dan kehidupan seperti yang keluarga itu alami karena mereka melihat suatu kesempurnaan keluarga yang sangat cocok dan ideal menurut pandangan mereka.
Ketika mimpi menyeramkan yang dialami wulan terjadi membuat kedua orang tua wulan termenung. Mereka mulai mencoba memahami keadaan dan kehidupan yang mereka alami. Mereka mencoba merenungi mimpi anak gadisnya itu, bagaikan suatu keadaan dan situasi yang sangat bertentangan dengan yang mereka bayangkan. Mereka merasa telah banyak beramal dengan sumbangan-sumbangan untuk para tetangganya, tempat ibadah serta ibadah dan umroh yang sering mereka ulangi setiap tahun.
Mereka tetap merasa heran apakah amal yang mereka lakukan itu seimbang dengan mimpi anaknya atau apa yang sebenarnya terjadi. Atau apakah mereka hanya akan menganggapnya sebagai mimpi anak kecil yang akan berlalu begitiu saja. Nampak diwajah mereka terus termenung tentang mimpi yang dialami oleh anak gadisnya. Dan pertanyaan itu terus meliputi batin mereka.
-Gantira- Jakarta
Rabu, 06 Oktober 2004
Buah Kesabaran
Keringatnya bercururan, nafasnya terengah-engah dan kakinya mulai pegal-pegal, namun akhirnya sampai juga pada tempat yang dia tuju.
Kemudian dia berucap “ Pak beli kelapa 2 buah sekalian di parud !, juga beli cabe, bawang dan garam”…
Dia terdiam sambil menunggu yang dia pesan selesai, setelah lama menunggu lalu ia teringat akan pesan istrinya, lalu diapun berucap “Pak tolong santan yang kental dan cair dipisah!”
“Kenapa gak ngomong dari tadi!!” suara balasan dengan nada membentak, “Ini udah terlanjur, tau!!” disusul dengan ucapan yang memanaskan hati yang memang sudah panas..
Si pemuda itu lalu melihat sebuah golok yang membentang didepannya, dia terdiam lama sambil melihat tukang kelapa mengerjakan tugasnya. Dadanya terus memanas, hatinya berucap “apa hak si penjual memarahi pembeli, apa dia tidak tahu bahwa si pembeli adalah raja??” kalimat itu terus bergaung-gaung dalam hatinya yang mulai membakar seluruh tubuhnya.
Lalu dia menyambar sebuah golok didepannya dan dibacokkan berkali-kali pada si penjual kelapa, setelah darah bercucuran disekujur tubuhnya. Dia melihat sekelilingnya menjerit-jerit. Anak-anak menangis, ibu-ibu berteriak, dan banyak lelaki yang tertegun tak bisa berbuat apa-apa. Setelah itu terjadi, lalu datang sekumpulan polisi dengan senapan di tangannya. Dan berteriak “angkat tangan!!” diam ditempat!!”
Lalu pemuda itu dibawa dengan tangan diborgol dan orang-orang yang dilewatinya memaki-maki dan meludahi wajah pemuda itu. Akhirnya dia dihukum seumur hidup. Namanya hancur, keluarganya menahan rasa malu serta istri yang dicintainya menangis menahan rasa sakit bercampur cinta. Pemuda itu terdiam dalam kesedihan yang memilukan.
Setelah lama dia terdiam, terdengar suara “mas, saya kira kelapa pesanannya masih bisa dipisah, permintaan mas bisa saya penuhi” dia tersadar dari lamunannya. Dia bersyukur, untung bisa menahan rasa kemarahannya. Bila tidak maka akibat yang terjadi akan jauh lebih buruk. Sungguh menahan rasa marah dengan kesabaran mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dari yang dibayangkan.
-Gantira- Jakarta
-Gantira- Jakarta
Kemudian dia berucap “ Pak beli kelapa 2 buah sekalian di parud !, juga beli cabe, bawang dan garam”…
Dia terdiam sambil menunggu yang dia pesan selesai, setelah lama menunggu lalu ia teringat akan pesan istrinya, lalu diapun berucap “Pak tolong santan yang kental dan cair dipisah!”
“Kenapa gak ngomong dari tadi!!” suara balasan dengan nada membentak, “Ini udah terlanjur, tau!!” disusul dengan ucapan yang memanaskan hati yang memang sudah panas..
Si pemuda itu lalu melihat sebuah golok yang membentang didepannya, dia terdiam lama sambil melihat tukang kelapa mengerjakan tugasnya. Dadanya terus memanas, hatinya berucap “apa hak si penjual memarahi pembeli, apa dia tidak tahu bahwa si pembeli adalah raja??” kalimat itu terus bergaung-gaung dalam hatinya yang mulai membakar seluruh tubuhnya.
Lalu dia menyambar sebuah golok didepannya dan dibacokkan berkali-kali pada si penjual kelapa, setelah darah bercucuran disekujur tubuhnya. Dia melihat sekelilingnya menjerit-jerit. Anak-anak menangis, ibu-ibu berteriak, dan banyak lelaki yang tertegun tak bisa berbuat apa-apa. Setelah itu terjadi, lalu datang sekumpulan polisi dengan senapan di tangannya. Dan berteriak “angkat tangan!!” diam ditempat!!”
Lalu pemuda itu dibawa dengan tangan diborgol dan orang-orang yang dilewatinya memaki-maki dan meludahi wajah pemuda itu. Akhirnya dia dihukum seumur hidup. Namanya hancur, keluarganya menahan rasa malu serta istri yang dicintainya menangis menahan rasa sakit bercampur cinta. Pemuda itu terdiam dalam kesedihan yang memilukan.
Setelah lama dia terdiam, terdengar suara “mas, saya kira kelapa pesanannya masih bisa dipisah, permintaan mas bisa saya penuhi” dia tersadar dari lamunannya. Dia bersyukur, untung bisa menahan rasa kemarahannya. Bila tidak maka akibat yang terjadi akan jauh lebih buruk. Sungguh menahan rasa marah dengan kesabaran mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dari yang dibayangkan.
-Gantira- Jakarta
-Gantira- Jakarta
Sabtu, 05 Juni 2004
Kesempatan yang Terabaikan
Ada penguasa yang begitu kaya dan berkuasa dengan megahnya, dia memiliki tanah kekuasaan yang sangat luas. Laut dan tanahnya mengandung berbagai macam kekayaan yang berlimpah ruah bagai limpahan yang tak mungkin habis-habisnya.
Lautnya berlimpahkan berbagai macam jenis kekayaan yang sangat mengagumkan, ada berbagai macam jenis ikan yang berkembang dengan cepatnya, ada minyak dan gas yang takkan pernah habis sampai kapanpun, ada banyak terumbu karang yang sangat indah dan mengagumkan.
Daratannya memendam berbagai macam kemewahan yang tak pernah habis digunakan, tanahnya mengandung zat hara yang sangat tinggi, air didalamnya berlimpah ruah tanpa batas. Intan, emas, permata, berlian, minyak bumi, gas, dan berbagai jenis bahan tambang yang sangat berharga tertanam di dalam daratan tersebut.
Saat dia mengunjungi daerah A yang berada di bawah kekuasaannya. Terlihat disana mereka dalam kehidupan yang sangat menyenangkan bagaikan surga yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Mereka makan dengan makanan yang mereka inginkan dan sungguh melejatkan. Mereka minum dengan minuman yang mereka senangi yang sungguh menyegarkan. Karena mereka telah memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk mengeksploitasi kekayaan didalam tanah yang mereka tempati. Penguasa itu tersenyum melihat kecerdasan rakyatnya yang telah memanfaatkan otak mereka.
Saat dia mengunjungi daerah B yang juga berada di bawah kekuasaannya. Terlihat disana mereka dalam kehidupan yang sangat menyengsarakan. Pada saat mereka lapar maka untuk memenuhi kebutuhan perutnya mereka hanya mencari cacing dan belatung yang kebetulan ada di permukaan tanah sehingga membuat perut mereka semakin lapar dan mual. Pada saat haus mereka mendatangi air laut dan meminumnya sehingga membuat kerongkongan mereka semakin haus tak tertahankan. Penguasa itu sangat marah melihat kebodohan rakyatnya yang ada didaerah itu, karena mereka tidak menggunakan otaknya.
Saat dia mengunjungi daerah C yang juga berada di daerah kekuasaannya. Disana baru terlahir seorang anak muda yang tidak tahu apa-apa. Lalu penguasa itu mengajak anak muda tersebut melihat daerah A dan daerah B namun hanya melihat tidak diperkenankan untuk merasakan situasi keduanya. Dan dikatakan kepada anak muda di daerah C itu, bahwa dulu mereka diberi kesempatan dikirim ke daerah yang kaya akan berbagai macam ilmu pengetahuan.
Penduduk A, mereka memanfaatkan kesempatannya untuk belajar berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengan tehnik untuk mengolah segala macam jenis kekayaan yang terkandung di daerah tanah yang mereka tempati. Akhirnya seperti yang terlihat, mereka hidup dalam kemewahan yang luar biasa nikmatnya.
Penduduk B, merekapun diberi kesempatan untuk menimba berbagai jenis ilmu pengetahuan untuk mengolah tanah yang dimilikinya yang mengandung kekayaan seperti yang dimiliki oleh daerah A. Namun sayangnya penduduk A tidak memanfaatkan kesempatan menimba ilmu yang telah diberikan kepadanya, sehingga saat pulang dari negeri yang kaya ilmu mereka tetap bodoh seperti yang terlihat sekarang.
Pemuda yang dari daerah C mengerti dan paham saat itu. Kemudian dia dikirim ke daerah yang kaya akan ilmu yang dibutuhkan untuk mengolah tanahnya yang sangat kaya. Pada saat dia berangkat dia bertekad akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin, agar dia bisa hidup mewah seperti yang dia lihat di daerah A.
Setelah dia sampai ditempat tujuannya, awalnya dia tetap pada tujuan semula yaitu menuntut ilmu yang ada hubungannya dengan tanah yang dimilikinya. Namun lambat laun si pemuda itu mulai tergoda untuk mengikuti kesenangan lain yang ada di daerah yang kaya akan berbagai macam ilmu pengetahuan itu.
Pemuda itu mulai merasakan nikmatnya minum-minuman, nikmatnya bersex ria, nikmatnya melihat-lihat perempuan yang sangat cantik tanpa menggunakan sehelai bajupun, mulai mempelajari ilmu berjudi, ilmu menggosip dan berbagai ilmu yang tidak ada hubungannya dengan mengolah tanah yang dimilikinya.
Padahal ditempat dia menuntut ilmu, banyak sekali ilmu pengetahuan mengenai pertanian, pertambangan, perikanan, perhutanan, dan berbagai jenis ilmu lainnya yang sangat berlimpah tersedia disana. Tapi sayang si pemuda itu lupa akan tujuan awal dia di kirim ke tempat dunia ilmu itu.
Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahunpun berlalu. Pada saat diumumkan bahwa besok pemuda itu akan dilantik serta dia diwajibkan untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Baru dia tersadar akan kebodohannya, dia minta diperpanjang waktunya untuk menimba ilmu yang dibutuhkannya namun sayang semua sudah terlambat. Terbayang di matanya kehidupan yang akan dia alami seperti kehidupan yang dialami oleh penduduk B. Dia saat itu hanya bisa menangis dan meraung-raung akan penyesalan yang tak mungkin kembali.
Kemudian pemuda itu mengingat beberapa surat yang ada di kitab sucinya.
Q.S. Al Anbiya (21) ayat 35:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.'
Q.S. An Naml (37) Ayat 89-90:
'Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu'
'Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan'
Q.S. Thaaha (20) ayat 124:
''Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.''
Setelah mengingat kitab sucinya, pemuda itu menangis dengan tangisan yang menyayat hati, namun itu sudah terlambat. Dia merenungi berulang-ulang sebuah kalimat 'Kesempatan yang Terabaikan'.
-Gantira- Wollongong Australia
Lautnya berlimpahkan berbagai macam jenis kekayaan yang sangat mengagumkan, ada berbagai macam jenis ikan yang berkembang dengan cepatnya, ada minyak dan gas yang takkan pernah habis sampai kapanpun, ada banyak terumbu karang yang sangat indah dan mengagumkan.
Daratannya memendam berbagai macam kemewahan yang tak pernah habis digunakan, tanahnya mengandung zat hara yang sangat tinggi, air didalamnya berlimpah ruah tanpa batas. Intan, emas, permata, berlian, minyak bumi, gas, dan berbagai jenis bahan tambang yang sangat berharga tertanam di dalam daratan tersebut.
Saat dia mengunjungi daerah A yang berada di bawah kekuasaannya. Terlihat disana mereka dalam kehidupan yang sangat menyenangkan bagaikan surga yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Mereka makan dengan makanan yang mereka inginkan dan sungguh melejatkan. Mereka minum dengan minuman yang mereka senangi yang sungguh menyegarkan. Karena mereka telah memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk mengeksploitasi kekayaan didalam tanah yang mereka tempati. Penguasa itu tersenyum melihat kecerdasan rakyatnya yang telah memanfaatkan otak mereka.
Saat dia mengunjungi daerah B yang juga berada di bawah kekuasaannya. Terlihat disana mereka dalam kehidupan yang sangat menyengsarakan. Pada saat mereka lapar maka untuk memenuhi kebutuhan perutnya mereka hanya mencari cacing dan belatung yang kebetulan ada di permukaan tanah sehingga membuat perut mereka semakin lapar dan mual. Pada saat haus mereka mendatangi air laut dan meminumnya sehingga membuat kerongkongan mereka semakin haus tak tertahankan. Penguasa itu sangat marah melihat kebodohan rakyatnya yang ada didaerah itu, karena mereka tidak menggunakan otaknya.
Saat dia mengunjungi daerah C yang juga berada di daerah kekuasaannya. Disana baru terlahir seorang anak muda yang tidak tahu apa-apa. Lalu penguasa itu mengajak anak muda tersebut melihat daerah A dan daerah B namun hanya melihat tidak diperkenankan untuk merasakan situasi keduanya. Dan dikatakan kepada anak muda di daerah C itu, bahwa dulu mereka diberi kesempatan dikirim ke daerah yang kaya akan berbagai macam ilmu pengetahuan.
Penduduk A, mereka memanfaatkan kesempatannya untuk belajar berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengan tehnik untuk mengolah segala macam jenis kekayaan yang terkandung di daerah tanah yang mereka tempati. Akhirnya seperti yang terlihat, mereka hidup dalam kemewahan yang luar biasa nikmatnya.
Penduduk B, merekapun diberi kesempatan untuk menimba berbagai jenis ilmu pengetahuan untuk mengolah tanah yang dimilikinya yang mengandung kekayaan seperti yang dimiliki oleh daerah A. Namun sayangnya penduduk A tidak memanfaatkan kesempatan menimba ilmu yang telah diberikan kepadanya, sehingga saat pulang dari negeri yang kaya ilmu mereka tetap bodoh seperti yang terlihat sekarang.
Pemuda yang dari daerah C mengerti dan paham saat itu. Kemudian dia dikirim ke daerah yang kaya akan ilmu yang dibutuhkan untuk mengolah tanahnya yang sangat kaya. Pada saat dia berangkat dia bertekad akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin, agar dia bisa hidup mewah seperti yang dia lihat di daerah A.
Setelah dia sampai ditempat tujuannya, awalnya dia tetap pada tujuan semula yaitu menuntut ilmu yang ada hubungannya dengan tanah yang dimilikinya. Namun lambat laun si pemuda itu mulai tergoda untuk mengikuti kesenangan lain yang ada di daerah yang kaya akan berbagai macam ilmu pengetahuan itu.
Pemuda itu mulai merasakan nikmatnya minum-minuman, nikmatnya bersex ria, nikmatnya melihat-lihat perempuan yang sangat cantik tanpa menggunakan sehelai bajupun, mulai mempelajari ilmu berjudi, ilmu menggosip dan berbagai ilmu yang tidak ada hubungannya dengan mengolah tanah yang dimilikinya.
Padahal ditempat dia menuntut ilmu, banyak sekali ilmu pengetahuan mengenai pertanian, pertambangan, perikanan, perhutanan, dan berbagai jenis ilmu lainnya yang sangat berlimpah tersedia disana. Tapi sayang si pemuda itu lupa akan tujuan awal dia di kirim ke tempat dunia ilmu itu.
Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahunpun berlalu. Pada saat diumumkan bahwa besok pemuda itu akan dilantik serta dia diwajibkan untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Baru dia tersadar akan kebodohannya, dia minta diperpanjang waktunya untuk menimba ilmu yang dibutuhkannya namun sayang semua sudah terlambat. Terbayang di matanya kehidupan yang akan dia alami seperti kehidupan yang dialami oleh penduduk B. Dia saat itu hanya bisa menangis dan meraung-raung akan penyesalan yang tak mungkin kembali.
Kemudian pemuda itu mengingat beberapa surat yang ada di kitab sucinya.
Q.S. Al Anbiya (21) ayat 35:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.'
Q.S. An Naml (37) Ayat 89-90:
'Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu'
'Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan'
Q.S. Thaaha (20) ayat 124:
''Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.''
Setelah mengingat kitab sucinya, pemuda itu menangis dengan tangisan yang menyayat hati, namun itu sudah terlambat. Dia merenungi berulang-ulang sebuah kalimat 'Kesempatan yang Terabaikan'.
-Gantira- Wollongong Australia
Langganan:
Postingan (Atom)
